Follow Us @soratemplates

Tampilkan postingan dengan label Education. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Education. Tampilkan semua postingan

Rabu, 21 April 2021

April 21, 2021 0 Comments

 

KARYA KREATIF LITERASI DENGAN “KARTINI” (KARTU MINI)

Oleh: Puji Narima Wati, M.Pd

 

Peringatan Hari Kartini setiap tanggal 21 April tentu memberikan banyak inspirasi terutama bagi para pegiat literasi. Sebagaimana kita ketahui bahwa sosok Kartini adalah salah satu pejuang literasi di zamannya. Namun, idenya tak lekang oleh zaman hingga bisa kita tiru dengan sedikit modifikasi di era digital ini. 


Bayangkan jika ia tidak menuliskannya maka perjuangannya tidak akan memberi banyak inspirasi sebanyak hari ini. Mungkin banyak pahlawan yang perjuangannya lebih dari Kartini, tapi mereka tidak menuliskannya sehingga kita tidak bisa banyak belajar dari pahlawan-pahlawan tersebut karena kurangnya referansi.


Pemikiran Kartini di bidang pendidikan memang sangat maju. Ia gigih memperjuangkan tentang hak perempuan dalam pendidikan. Menurut beliau, agar masyarakat menjadi maju, perempuan butuh dibekali pengetahuan dan pendidikan yang luas untuk menjadi manusia pembangunan baik di ranah publik maupun domestik.


Mencermati kisah Kartini, ada inspirasi yang bisa kita petik yaitu “Kartini berjuang lewat tulisan”. Kartini adalah pejuang literasi. Dengan penanya, ia tulis surat demi surat tentang gagasan pemikirannya yang cemerlang. Hingga kumpulan suratnya diterbitkan dalam sebuah buku yang berjudul, “Habis Gelap Terbitlah Terang.”


Kelebihan Kartini di bidang literasi adalah pada kegemarannya membaca dan menulis. Ia adalah wanita yang gemar membaca sekaligus kritis. Sikap kritisnya tersebut kemudian ia tuangkan ke dalam tulisan. Sungguh dari sini kita belajar bahwa sejatinya penulis yang baik adalah pembaca yang baik pula. 


Kadang ada ketidakseimbangan antara semangat menulis kita dengan semangat membaca kita. Kita sangat semangat menulis di awal kemudian terbentur kehabisan ide di tengah tulisan kita. Alasan kehabisan ide ketika menulis akan menghambat keinginan kita untuk menyelesaikan tulisan yang sedang kita buat.


Masalah lain yang paling sering muncul ketika kita sudah membaca kita sering lupa isinya. Kita lupa mengambil intisari dari buku yang kita baca. Termasuk kita lupa mengambil nilai hidup dari bahan bacaan kita. Padahal buku yang kita baca bagus dan memberikan banyak inspirasi. Sedangkan kemampuan otak kita dalam mengingat sangat terbatas.


Gambar 1. Penulis memegang Kartu Mini (KARTINI)


Nah, untuk mengatasi masalah tersebut kita bisa mencoba menuliskan ide atau intisari dari buku ke dalam Kartu Mini yang disingkat “KARTINI”. Kita bisa membuat kartu seukuran kartu nama dari kertas yang HVS atau kertas yang agak tebal. Bisa juga kita membeli kertas post it yang sudah jadi di toko alat tulis agar lebih berwarna. Apa kegunaan "KARTINI" tersebut?


Setelah Kartu Mini dibuat selanjutnya kita gunakan untuk menulis intisari dari buku atau artikel yang kita baca. Tidak perlu menulis banyak. Cukup satu sampai tiga kalimat saja. Ukuran tulisan bisa kita sesuaikan. Jika hanya satu kalimat mungkin lebih besar ukuran hurufnya. Jika dua kalimat atau kalimatnya panjang bisa kita perkecil ukuran hurufnya.


Lantas apa yang harus kita tulis? Tulis apa saja yang menurut kita penting, menarik, unik, bermanfaat, atau merupakan ide baru. Kalimat yang kita tulis itu nantinya bisa kita kembangkan menjadi tulisan yang lebih dalam dan luas pada lain waktu ketika kita sempat. Yang penting ikat ilmunya dulu. Ikat ide atau gagasannya dulu agar tidak lupa. Jika kita mempunyai waktu yang agak longgar baru kita kembangkan ide tersebut.


Misalnya, setelah kita membaca buku Cinta Dua Cahaya karya Ibu Ida Nur Laila kita mendapatkan informasi baru dan menarik di halaman 275, maka kita tulis di Kartu Mini seperti ini:


“Diskusi sengit berakhir baik. Dua jari kelingking tertaut dengan senyuman. Itu salah satu contoh pendakian.” (Ida Nur Laila. Cinta Dua Cahaya: 275)


Setelah menulis intisari dari buku yang kita baca jangan lupa sediakan ruang kosong untuk menulis satu kata kunci. Kata kunci berisi satu atau dua kata tentang nilai hidup atau tema yang ada pada bahan bacaan. Inilah yang dinamakan nilai karakter. Misalnya saja dari Kartu Mini tersebut kita tulis kata "berdamai". Nilai karakter lainnya bisa kita tulis seperti jujur, tekun, kerja keras, ikhlas atau pantang menyerah.


Nilai karakter inilah yang akan menjadi nyawa pada tulisan yang akan kita kembangkan nantinya. Nilai ini yang membuat tulisan kita nanti hidup dan penuh makna, Dampak dari tulisan yang bermakna salah satunya bisa bermanfaat sehingga orang terinspirasi setelah membaca tulisan kita. 


Beri tanda lingkaran atau kotak pada nilai karakter untuk menandai. Kelak ketika kita ingin menulis dengan tema jujur misalnya tinggal kita cari Kartu Mini dengan melihat kotak nilai karakter di sebelah atas. Kita akan lebih mudah dan cepat ketika mencari tema tertentu. 


Setelah selesai menuliskan nilai karakter dan kutipan selanjutnya tuliskan judul buku atau artikel, penulisnya, halaman dan tahun terbit di baris paling bawah dari Kartu Mini tersebut. Hal ini untuk memudahkan kita apabila ingin menulis kutipan pada tulisan kita nanti juga memudahkan kita dalam menulis daftar pustaka. Bisa juga untuk memudahkan kita ketika kita ingin membaca buku tersebut di lain waktu atau mencari informasi lebih dalam. 


Utuk penyimpanan Kartu Mini (KARTINI) kita bisa membeli dompet kartu nama. Kita masukkan satu per satu di setiap plastiknya. Bisa juga kita siapkan kotak khusus. Kita tata dengan rapi. Bisa kita urutkan sesuai tanggal membuat. Jika sudah banyak bisa kita klasifikasikan jenisnya sesuai warna kertas atau sesuai jenis buku. Sebenarnya tidak ada aturan khusus dalam penyimpanan, bebas saja sesuai dengan keinginan kita. Pilihlah yang termudah sehingga bisa membantu kita saat dibutuhkan.


Gambar 2. Kartu Mini (KARTINI) yang dibuat dengan power point


Jika kita kesulitan membawa Kartu Mini  dan pupen kemana-mana kita bisa membuat E-Kartini. Kartini Elektronik (E-Kartini) juga bisa dibuat lewat gawai kita. Kita bisa memakai aplikasi apa saja yang penting memudahkan.  Misalnya, bisa memakai Ms Word lalu kita buat tabel. Bisa juga kita memakai Excel yang sudah tersedia tabel hanya saja perlu memperbesar ukuran tabelnya. 


Jika ingin lebih cantik, bisa memakai aplikasi power point. Justru aplikasi ini memudahkan kita ketika kita ingin mencetak karena sudah tertata dalam bentuk kotak-kotak. Kita juga bisa menambahkan gambar dan tampilan background dengan sekali klik.


Jika kita kurang puas dengan aplikasi tersebut bisa memilih canva atau sejenisnya. Kita bisa berkreasi dengan berbagai jenis huruf dan ukuran. Tampilannya bisa lebih menarik. Misalnya gambar cover buku kita taruh di E-Kartini tersebut. Tambahkan pula gambar penulis bukunya. Bisa juga diberikan gambar sesuai dengan tema tulisan dalam kartu mini. 


Setelah selesai bisa kita unggah di media sosial. Biasanya banyak orang mengunggah  kutipan tanpa mencantumkan sumber. Seolah-olah kutipan tersebut adalah idenya sendiri padahal kutipan tersebut adalah hasil ide orang lain.


Nah, Kartu Mini ini menjadi solusi selain mengikat ilmu agar kita tidak lupa dengan intisari bacaan juga bisa menghargai ide pemikiran orang lain. Membiasakan menulis sumber asli kutipan membuat kita terhindar dari kebiasaan plagiat karya orang lain. 


Dalam dunia tulis menulis plagiarisme merupakan kejahatan besar. Jadi Kartu Mini bisa menjadi alternatif mengasah kebiasaan baik dalam dunia tulis menulis. Membiasakan mencantumkan ide orang lain. Hal tersebut tidak kemudian membuat tulisan kita turun kualitasnya karena mengutip tuilisan orang lain, justru kita sedang mengembangkan ilmu pengetahuan. Kita sedang meramu berbagai pemikiran orang lain dan meraciknya hingga bisa bermanfaat bagi pembaca.


Ide Kartu Mini (Kartini) ini muncul setelah penulis mempraktikkan media Book Game dan Kartu Catatan (KC) karya Peng Kheng Sun. Dalam media Book Game ada kartu kira-kira berukuran seperempat kertas A4 yang berisi bahan bacaan. Pembaca diminta mencari nilai karakter dari bacaan tersebut. Di dalam kartu hanya berisi bacaan yang lumayan panjang sekitar satu sampai tiga paragraf dan belum ada tulisan nilai karakter karena memang dijadikan permainan mencari karakter.


Sedangkan media Kartu Catatan (KC) adalah sebuah media yang digunakan untk menulis intisari dari bacaan yang kita baca. Ada pencantuman inisial nama pembuat KC, nomor urut, kode buku, tahun pembuatan KC, nama penulis/ buku yang dibuat KC, judul buku yang dibuat KC, halaman buku yang dikutip. Memang lengkap sekali dan informatif. Dalam KC juga belum tercantum nilai karakter secara khusus.


Terinspirasi dari Peng Kheng Sun, seorang inovator dan penulis yang luar biasa di Indonesia ini penulis kemudian melakukan ATM (Amati, Tiru, dan Modifikasi). Modifikasi Kartu Mini (Kartini) adalah menambahkan nilai karakter langsung ke dalam kartu. Manfaatnya agar memudahkan ketika kita ingin menulis dan mengembangkannya. Juga membiasakan kita mengambil nilai karakter dari setiap bahan bacaan yang kita baca.


Semoga dengan “Kartini dan E-Kartini” bisa menambah semangat kita dalam membaca. Juga membiasakan kita agar terbiasa mengikat ilmu. Sebagaimana pesan Ali in Abi Tholib ra, “Ikatlah ilmu dengan menuliskannya”. Itu merupakan peringatan kepada kita bahwa ilmu mudah sekali lepas ketika tidak diikat. Adapun cara mengikatnya adalah dengan menuliskannya. 


Mari mengikuti jejak pahlawan Kartini dengan menulis Kartu Mini (Kartini) baik menulis secara manual maupun elektronik. Jika sehari satu Kartu Mini bisa kita buat maka sebulan ada 30 lembar dan setahun ada 365 lembar. Artinya ada 365 ide untuk menulis. Jadi tidak ada alasan lagi kehabisan ide dalam menulis. Karena kita sudah punya bank ide yaitu kumpulan Kartu Mini.


Gambar 3. Bersama rekan guru dan karyawan di SMPN 2 Selomerto, Wonosobo 
berfoto bersama dengan membawa Kartu Mini (KARTINI)


Kartu Mini yang kita buat bisa dipinjamkan kepada teman kita. Bisa juga saling tukar Kartu Mini. Semakin banyak Kartu Mini yang kita buat dan kita baca maka semakin banyak ide yang masuk di pikiran kita. Semakin banyak ide maka semakin mudak kita menulis. Semakin banyak tulisan yang kita buat tentu saja kita akan semakin produktif dan semakin bermanfaat untuk orang lain. Kuncinya adalah ketelatenan, membaca kritis, dan meluangkan waktu.


Akhirnya sosok Kartini harus menjadi inspirasi wujud pegiat literasi yang tangguh dan rajin menulis. Mari kita belajar merawat iklim intelektual melalui aktivitas mengikat pengetahuan dengan tulisan. Kita ikat ilmu dengan Kartu Mini (Kartini) baik manual maupun elektronik lalu kita kembangkan lewat tulisan sesuai dengan kapasitas pemikiran kita. 


Walaupun KARTINI bentuk dan ukurannya kecil namun bisa melahirkan karya besar. Setelah itu kita bagi tulisan kita ke seluruh penjuru dunia dengan bantuan teknologi. Setidaknya jika kita tidak mampu merubah dunia dengan tangan kita bisa jadi kita bisa merubah dunia lewat tulisan kita.


 Wallahu a'lam bi showab.


Artikel ini ditulis oleh Puji Narima Wati, M.Pd (alumni Mudilan School Angkatan 1) dalam rangka memperingati milad Mudilan School yang kelima. Terima kasih atas ilmu kepenulisan yang telah diberikan kepad penulis selama satu tahun pembelajaran. Semoga Mudilan School tambah sukses menjadi generasi penerus Kartini yang berjuang membudayakan literasi.


#LombaKaryaKreatifLiterasi

#MiladKeLimaMudilanSchool

Minggu, 03 Juni 2018

Dasar-Dasar Menulis

Juni 03, 2018 0 Comments


Mulai bulan Januari 2018 saya mengikuti Kelas Menulis Online. Ada sekitar 150 peserta yang mengikuti kelas tersebut. Admin menyebut kelas kami KMOJAN kepanjangan dari Kelas Menulis Online Januari. Di kelas menulis online ini kami dibimbing oleh penulis senior Bapak Cahyadi Takariawan dan Ibu Ida Nur Laila.  Menurut saya materi-materi yang diberikan sangat bagus.

Pak Cah, begitulah sapaan beliau,  menganggap semua peserta yang ikut  KMOJAN belum bisa menulis sama sekali, sehingga beliau mengajarkan materi yang benar-benar dari dasar, bahkan terlebih dahulu beliau membangkitkan semangat kami untuk berani menulis dan memiliki rasa percaya diri dengan tulisan sendiri yang dibuat. Beliau juga mengajari kami untuk mengatasi bad mood ketika proses menulis itu berlangsung. Materi yang diberikan kepada peserta kadang melalui video, materi pdf dan materi via whats app. Saya merasa beruntung mengikuti kelas KMOJAN ini.

Di kelas KMOJAN ada banyak tugas menulis yang harus kami selesaikan. Admin sering memberi tantangan dengan tema tertentu dan ketentuan khusus kepenulisan. Nah, kali ini admin KMOJAN meminta kami menonton video materi Pak Cah tentang kepenulisan lalu membuat resume dari materi tersebut.

Saya menonton video tersebut dengan seksama. Menyimak kata demi kata yang disampaikan Pak Cah. Pada awal tayangan video beliau banyak menyampaikan tentang pengalaman beliau menulis pertama kali sampai kemudian beliau istiqomah menulis sampai sekarang hingga lahirlah 46 buku. Beberapa diantaranya adalah buku-buku best seller. Sungguh luar biasa pengalaman beliau, sangat menginspirasi khususnya bagi penulis bpemula seperti saya.

Bagi Pak Cah sendiri menulis bertujuan untuk berbagi ilmu, informasi dan pengalaman khususnya tentang konseling. Beliau juga berpesan sebelum menulis yang harus dipikirkan oleh  penulis harus memiliki tujuan menulis. Kenapa seseorang harus memiliki tujuan menulis?

Nah, setidaknya ada delapan tujuan seseorang kenapa ia harus menulis.

1.      Tujuan Ideologis

Seseorang ingin menulis karena ia ingin mempengaruhi orang lain melalui tulisannya. Orang tersebut sudah mempunyai keyakinan hidup tertentu dan ia ingin mempengaruhi orang lain lewat tulisannya tersebut karena bermula dari keyakinan ideologinya. Misalnya keyakinan tentang agamanya, keyakinan tentang pandangan hidupnya, keyakinan tentang suatu kebenaran dan ia ingin orang lain juga meyakini kebenarannya yang ia miliki tersebut.

Biasanya orang yang menulis karena alasan ideologis ia tidak berfikir tentang suatu alasan yang sifatnya pragmatis. Misalnya, dia tidak berfikir bahwa tulisannya itu nanti akan dibayar atau tidak, apakah dia menjadi populer atau tidak, apakah dia menjadi orang yang diakses atau tidak, apakah dia mendapatkan likers atau haters yang terbanyak atau tidak. Dia tidak mempedulikannya karena tujuan ia menulis adalah ideologi.

Contoh orang yang menulis karena tujuan ideologis adalah para pendakwah. Ia menulis karena ingin berdakwah. Orang tersebut ingin mendakwahkan apa yang ia yakini agar orang lain terpengaruh dengan apa yang ia yakini.

2.      Tujuan Akademis

Tujuan menulis ini biasanya untuk kalangan akademisi seperti di sekolah atau kampus atau yang menyangkut masa depan kariernya. Sebut saja jurnal, artikel ilmiah atau bahan ajar adalah contoh dari tulisan yang dihasilkan.

Contoh lainnya adalah ketika para dosen membuat buku agar mahasiswanya lebih paham dan mempunyai referensi terhadap mata kuliah yang diampu. Guru membuat modul dan digunakan untuk pembelajaran siswanya. Termasuk juga guru, dosen dan profesi lain yang menulis dengan persyaratan tertentu untuk kenaikan pangkat atau kenaikan jenjang tertentu.

Menulis untuk tujuan akademis tentu terikat dengan sejumlah aturan-aturan akademis. Misalnya, bagaimana sistematika menulis, bagaimana cara menyajikan tulisan, bagaimana format bahasa dan bagaimana format penggunaan istilah. Aturan kepenulisan tentu disesuaikan dengan instansi atau lembaga terkait.

3.      Tujuan Ekonomis

Menulis dengna tujuan ekonomis maksudnya adalah seseorang menulis untuk mendapatkan keuntungan materi atau memperoleh pundi-pundi rupiah. Hal ini sah-sah saja dalam dunia kepenulisan, karena banyak penulis yang menggantungkan hidupnya melalui karya-karyanya.

Dengan menulis seseorang bisa dengan mudah mendapatkan royalti, honor kepenulisan dari media massa atau mendapatkan hadiah dari mengikuti lomba kepenulisan. Bahkan ada orang yang menjadikan menulis sebagai profesi untuk menghidupi biaya sehari-harinya.  

4.      Tujuan Psikologis

Menulis untuk menyalurkan emosi atau sesuatu yang mengganjal di hati, kalau secara psikologi dikenal dengan katarsis. Penulis sering menjadikan tulisannya untuk menyampaikan perasaan gembira, sedih, duka atau nestapa yang sedang ia rasakan. Ia mendapatkan kelegaan diri ketika sudah menulis. Misalnya orang yang sedang bahagia akan mendapatkan kebahagiaan yang optimal ketika dia menulis. Orang yang sedih lalu ia menuliskan kesedihannya itu mampu mengurangi kesedihan yang sedang ia rasakan. Seseorang yang menulis karena tujuan seperti ini dinamakan menulis karena tujuan psikologis.

5.      Tujuan Politis

Tujuan menulis ini adalah untuk kepentingan politik, seperti mengumpulkan massa dan simpatisan terhadap partai atau lembaga tertentu. Misalnya para politisi atau orang yang berkecimpung di dunia politik. Karena untuk tujuan politik mereka menggunakan cara-cara yang sifatnya politis. Menulis untuk tujuan politis biasanya terkait dengan event-event yang tujuannya politis atau bisa juga terkait dengan edukasi yang sifatnya politik. Jadi ada yang sifatnya untuk politik praktis ada yang sifatnya melakukan pendidikan politik untuk para pembaca.

6.      Tujuan Pedagogis

Menulis untuk memberikan edukasi kepada orang lain, mendidik dan mengajarkan orang lain terhadap sesuatu hal. Temanya apapun, bebas tapi tujuan menulisnya adalah mengedukasi. Misalnya saja mengedukasi tentang gaya hidup, mengedukasi nilai-nilai dan dia mengedukasi semua lapisan masyarakat..

7.      Tujuan Medis

Biasanya menuangkan emosi jiwa dalam tulisan akan membuat seseorang merasa lebih baik. Bukankah itu akan menjaga kualitas kesehatannya? Maka menulislah, kamu akan sehat. Menulis bagian dari terapi. Diyakini bahwa menulis itu mempunyai manfaat kesehatan. Bukan hanya kesehatan yang sifatnya spiritual, mental tetapi ada juga penyakit-penyakit fisik yang diyakini bisa disembuhkan karena menulis. Adapula yang meyakini bahwa dengan jalan menulis maka telah melakukan pencegahan terhadap penyakit-penyakit tertentu

8.      Tujuan Praktis / Pragmatis

Ini tujuan yang paling random di antara yang lain. Tujuan ini lebih beraneka ragam, sebut saja menulis karena ingin populer, menulis karena ingin mendapatkan posisi tertentu. Atau bisa juga ia menulis karena memenuhi tugas atau syarat tertentu sehingga ia harus menulis pada saat itu juga seperti mahasiswa di kampus yang disuruh dosennya untuk menulis.

Seorang penulis harusnya menetapkan alasan kenapa ia harus menulis. Delapan tujuan menulis bisa menjadi panduan kenapa seseorang harus menulis. Dan tujuan menulis itu tidak melulu satu tujuan saja, bisa saja satu tulisan merangkum beberapa tujuan, dan itu bukan masalah sama sekali. Yuk para penulis kita tetapkan tujuan kenapa kita menulis!,

Saya sendiri paling sering menulis dengan tujuan pedagogis. Mungkin karena profesi saya sebagai guru dan banyak tulisan saya tentang pendidikan anak, khususnya keempat anak saya. Saya sering menuliskannya di facebook dan di blog saya. Setiap hari saya sempatkan untuk menulis seperti nasehat pak Cah, “Asosiasikan waktu untu menulis”. Jadi jangan heran kalau saya kadang membuat tulisan malam-malam sambil menggendong bayi.

Keluarga dan sahabat saya sering menanyakan kepada saya, kenapa sih harus menulis? Memangnya nggak capek harus meluangkan waktu setiap harinya bermain dengan abjad kemudian merangkainya menjadi sesuatu yang bermakna? Keuntungan apa yang saya dapatkan dari berbagai tulisan saya itu?

Apakah saya mendapatkan sebuah popularitas atau uang? Apa keuntungan hobi nulis di blog dengan profesi saya sebagai guru? Sepertinya banyak orang memandang bahwa menulis itu pekerjaan sia-sia. Seolah menulis hanya membuang-buang waktu saya saja.

Semua mindset  itu berubah ketika saya menonton video Pak Cah. Pengetahuan saya menjadi bertambah, terutama mengenai manfaat menulis. Mengapa saya semangat menulis? Pertanyaan itu terjawab ketika saya tahu tujuan saya menulis dan tahu apa manfaat menulis. Pak Cah memberikan berbagai manfaat yang ternyata bisa kita peroleh dari dunia tulis menulis. Ini dia kemanfaatan menulis yang lebih bersifat spiritual/ nilai;

1.    Membuat kita banyak membaca dan banyak belajar.

Dari kegiatan membaca yang sering kita lakukan, otomatis kita akan banyak belajar tentang sesuatu hal. Banyak membaca dan belajar akan membuat seseorang kaya akan ilmu. Intinya, menulis akan membuat seseorang bertambah pengetahuannya. Jika seseorang jarang membaca lalu tiba-tiba menulis maka tulisannya tidak akan berkembang. Seseorang akan menulis pada pengetahuan yang dangkal karena tidak memiliki perluasan pengetahuan kita dari hasil pembelajaran dan bacaan.

Begitu kita menulis kita akan dituntut semakin banyak baca. Ketika kita semakin banyak baca maka semakin banyak pengetahuan yang kita miliki. Ketika pengetahuan kita semakin banyak semakin banyak pula kita memahami apa yang disciptakan Allah di dunia ini.

2.    Melatih berpikir logis dan sistematis.
Entah tulisan kita fiksi atau non fiksi membuat kita terlatih berfikir logis dan sistematis. Semakin banyak menulis maka kita akan semakin terlatih untuk berfikir sistematis apalagi untuk tulisan-tulisan yang panjang seperti buku, karya ilmiah, novel dll. Tulisan pendek sekalipun juga harus logis dan sistematis misalnya ketika membuat artikel. Artikel itu sependek apapun juga ada sistematikanya. Contoh ada bagian pendahuluan, lalu isinya mau seperti apa dan akan dibagi menjadi sub bagian apa saja, dan terakhir penutupnya mau seperti apa.

Walaupun kita tidak membuat outline (kerangka tulisan), secara sistematis dalam menulis artikel akan terdiri dari pendahuluan, isi lalu penutup. Kebiasaan inilah yang akan membuat kita terlatih untuk berfikir sistematis.

3.  Menulis membuat kita bisa mengikat makna. 

Jika membaca dapat membuat kita menangkap makna, maka menulis akan mengikat makna tersebut. Seorang guru ketika ia membaca buku sebelum mengajar maka ia sedang menangkap makna, tapi ketika ia menuliskan hasil bacaannya tersebut maka ia sedang mengikat makna. Jadi menulis itu untuk mengikat makna agar tersimpan di memori kita, tidak menguap dan tidak mudah hilang dari ingatan.  
         
4.  Sarana katarsis.

Ketika kita mencoba menuliskan kegelisahan kita, maka emosi itu serasa lepas, setidaknya bisa mengurangi beban kegelisahan yang kita rasakan dan akhirnya kita merasa lega dan nyaman. Inilah yang dinamakan katarsis yaitu sebuah bentuk meluapkan emosi jiwa. Biasanya penulis akan mengungkapkan perasaan lewat tulisan-tulisannya. Oleh karena itu orang yang menulis biasanya jauh dari stress dan depresi karena sesuatu yang mengganjal hati biasanya langsung ia tuangkan dalam bentuk tulisan.

5.  Sarana dakwah.

Kita bisa menulis dan dibaca oleh banyak kalangan dibanding kita ceramah dalam satu tempat saja. Ketika ada mubaligh yang keliling dari satu tempat ke tempat yang lain hanya aka nada beberapa kalangan saja yang bisa ia sentuh. Tetapi begitu ia menulis maka ia telah menyebarkan materi dakwahnya itu kepada semua kalangan yang bahkan ke tempat-tempat yang selama ini belum pernah ia kunjungi.

6.  Sarana edukasi dan berbagi.

Melalui tulisan kita dapat memberi manfaat kepada orang lain. Kita berbagi sesuatu yang bermanfaat bagi orang lain. Misalnya ketika seseorang mengisi seminar, ia hanya mampu mengedukasi kepada para peserta yang datang saja. Akan tetapi ketika ia menulis ia bisa mengedukasi puluhan ribu bahkan lebih orang yang membaca tulisannya karena tulisannya tersebar kemana-mana. Jadi menulis bisa menjadi sarana memberikan informasi tentang hal-hal yang bermanfaat.

7.  Mendapatkan kepuasan mental, kepuasan spiritual dan kepuasan intelektual. 

Melalui menulis seseorang bisa merasakan sebuah kepuasan tersendiri. Ketika tulisannya selesai ada kepuasan, ketika tulisannya dimuat ada kepuasan. Kadang ada kepuasan intelektual yang tidak bisa dibayar dengan sesuatu apapun. Mungkin buku itu tidak best seller tapi karena si penulis telah menuliskannya dengan penuh perjuangan, riset yang melelahkan, pencarian data dan referensi dari berbagai sumber, begitu buku tersebut selesai ditulis, rasanya puas sekali. Wow..jadi lebih termotivasi untuk menulis kan?

8.  Dikenal publik.

Ini pasti dong, apalagi kalau tulisan kita udah keren bingits. Semua orang bisa kenal dengan kita, mengagumi kita bahkan mengidolakan kita, hihihi. Tapi menurutku ini bonus. Jangan jadikan ini sebagai orientasi utama ya!

                  Nah sekarang alasan apalagi yang membuat kita menunda menulis? So segeralah menulis!. Dimana saja, kapan saja, yuk sempatkan diri untuk menyampaikan ide dalam bentuk tulisan. Jangan pernah takut untuk memulai menulis. Lihatlah, betapa banyak manfaat yang bisa diperoleh dari sebuah kegiatan menulis. Teruslah menulis, kita akan mendapatkan hasil dari setiap karya kita.

Selasa, 29 Mei 2018

Percepatan Pemberantasan Korupsi

Mei 29, 2018 0 Comments

Selama kurang lebih 72 tahun kemerdekaan Indonesia menunjukkan fakta yang terjadi sekarang seperti rendahnya pertumbuhan ekonomi nasional dan kualitas SDM, tingginya angka pengangguran dan kurangnya akses kepada layanan publik. Negeri kita sebenarnya kaya tapi rakyatnya miskin dan sibuk berhutang. Negeri kita sebenarnya subur tapi rakyatnya kurang gizi dan busung lapar. Negara kita terlalu sibuk mengimpor dan tidak berdaya untuk sekadar melawan flu burung. Mengapa semua itu bisa terjadi? Kemana potensi kekayaan tersebut mengalir?

Sebagian besar masyarakat kita mengatakan jawabannya karena korupsi. Ya, korupsi sudah sedemikian kuat membelenggu negara kita. Mulai dari istana sampai ke kantor kelurahan,  sejak bangun tidur hingga menjelang tidur lagi, sejak lahir sampai meninggal korupsi menjadi benalu. Bahkan merambah dari tempat ibadah sampai ke toilet. Astaghfirullah hal’adzim.

Korupsi adalah kejahatan yang tidak lagi dipandang sebagai kejahatan konvensional, melainkan sebagai kejahatan luar biasa (extraordinary crime). Dalam UU No 31 Tahun 1999 jo UU No. 20 Tahun 2001 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi (pasal 2 ayat 1), pengertian korupsi dari kaidah hukum adalah setiap orang yang secara melawan hukum memperkaya diri sendiri atau orang lain, atau suatu korporasi yang dapat merugikan keuangan Negara atau perekonomian Negara.

Korupsi kebanyakan dipicu oleh dorongan finansial dan bahkan rayuan dari para anggota keluarga atau sanak saudara. Jika imannya lemah maka dorongan itu akan mengubahnya menjadi seorang koruptor. Selain dorongan juga karena adanya kesempatan dan sistem kerja yang tidak mendukung. Misalnya karena  top level manajemen bersikap semena-mena, pemisahan kewenangan yang tidak tegas, kurangnya kontrol akan otorisasi dan persetujuan, perilaku pegawai, kontrol dan catatan untuk aset yang kurang baik serta tidak adanya transparansi.

Selain itu juga karena alasan rasionalisasi atau pembenaran. Banyak sekali orang melakukan korupsi dengan alasan pembenaran, diantaranya gajinya rendah, orang lain juga melakukannya, kita hanya manusia biasa, seolah-olah tidak ada orang yang dirugikan, keputusan sadar yang diambil dan menempatkan kepentingan diri sendiri di atas kepentingan umum.

Di Indonesia, korupsi dilakukan secara besar-besaran, bersama-sama dengan banyak orang sekaligus tanpa risi dan tanpa malu. Apalagi korupsi waktu yang dilakukan para pegawai di lingkungan pemerintahan maupun di sekolah-sekolah. Dampaknya antara lain rendahnya kualitas pelayanan publik, rendahnya kualitas sarana dan prasarana yang dibangun pemerintah, makin meningkatnya beban masyarakat akibat adanya ketidakefisienan dan ketidakefektifan pengelolaan badan usaha yang mengelola kebutuhan publik serta meningkatnya kemiskinan dan kesengsaraan rakyat.

Pemberantasan korupsi sampai saat ini belum menuai hasil yang memuaskan. Lalu bagaimana strategi dan program pemberantasan korupsi yang efektif dan efisien yang bisa dilakukan untuk menghentikan korupsi?

Ada 2 strategi yang bisa dilakukan yaitu:

1.       3P
3 P merupakan singkatan dari Pencegahan, Penindakan dan Peran Serta Masyarakat. Artinya, pemberantasan korupsi merupakan serangkaian tindakan mencegah dan menanggulangi korupsi yang dilakukan secara terkoordinatif yang melibatkan seluruh komponen masyarakat berdasarkan peraturan perundangan yang berlaku (Maheka, 2005).

Pencegahan meliputi perubahan ekonomi (merencanakan kebijakan-kebijakan ekonomi untuk pemerintahan yang lebih efisien), perubahan administrasi (inventarisasi program checks and balances dan pembentukan birokrasi yang kompeten), perbaikan pelayanan masyarakat, perbaikan anggaran dan manajemen keuangan serta perbaikan pajak dan administrasi bea cukai.

Sedangkan tahap Pelaksanaan meliputi memasukkan ikrar anti suap pada semua dokumen-dokumen penawaran, mendorong lembaga hukum untuk menyelesaikan perselisihan dan mediasi, reformasi hukum dan perundang-undangan ( Peraturan tentang percepatan pemberantasan korupsi)

Terakhir Peran Serta Masyarakat meliputi mempertinggi kewaspadaan dan kerjasama identifikasi masalah korupsi, menghimpun dan menyebarkan data serta informasi, aksi bersama melalui lembaga-lembaga dengan melibatkan wartawan, LSM, kepemimpinan politik, masyarakat pengusaha, lembaga keuangan dan lembaga-lembaga masyarakat.

2.       C = M + D – A

Formulasi di atas singkatan dari Korupsi (C) sama dengan monopoli kekuasaan  (M) ditambah wewenang pejabat (D) minus akuntabilitas (A). Artinya, korupsi dapat berkurang jika ada pemisahan kekuasaan, control dan perimbangan, keterbukaan, system peradilan yang baik, peran serta masyarakat, tanggung jawab dan ketaatan terhadap peraturan (Klitgaard, 2002).
Korupsi sulit berkembang dalam budaya demokrasi, persaingan, mekanisme kontrol dan jaminan hak untuk mendapatkan informasi maupun pengaduan. Sebaliknya korupsi akan berkembang bila banyak peraturan yang tumpang tindih, rumit, besarnya wewenang pejabat dan tidak terkontrol. Hal tersebut tidak hanya berlaku pada sektor pemerintah tetapi juga swasta.


Sedangkan program pemberantasan korupsi harus dimulai dari pimpinan tertinggi, yang disusul oleh para pejabat tinggi lainnya. Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) sebagai salah satu lembaga yang dibentuk dalam rangka percepatan pemberantasan korupsi harus berani menindak para pejabat tinggi. KPK juga dituntut untuk memenuhi harapan masyarakat melalui upaya penindakan yang keras dan tegas terhadap para koruptor secara efektif, efisien dan tetap menghormati due process of law.

Upaya memberantas korupsi tentu membawa dampak yang signifikan. Sudah banyak anggota DPR, pengusaha dan pejabat pemerintah yang ditetapkan menjadi tersangka korupsi. Figur-figur kuat seperti bupati, gubernur, menteri dan komisaris BUMN/ BUMD baik yang aktif maupun sudah tidak aktif, mulai memberi “perhatian” khusus terhadap upaya pemberantasan korupsi yang dilakukan KPK, Kejaksaan maupun Kepolisian.

KPK harus menyadari bahwa sejarah membuktikan kegagalan pemberantasan korupsi yang telah dilakukan Indonesia sejak tahun 50-an disebabkan terlalu mengutamakan cara-cara represif dan melupakan pentingnya upaya pencegahan. KPK perlu melakukan langkah pencegahan berupa pencegahan dengan Laporan Harta Kekayaan Penyelenggara Negara (LHKPN), pencegahan gratifikasi, kampanye percepatan pemberantasan korupsi, pendidikan percepatan pemberantasan korupsi, seminar dan sosialisasi tentang antikorupsi untuk sektor pemerintah dan swasta.

Ternyata banyak PR yang harus dilakukan untuk memberantas korupsi. Kita tidak boleh pesimis terhadap strategi dan program-program yang telah dicanangkan oleh pemerintah. Karena kita sebagai anggota masyarakat juga memiliki peran yang signifikan dalam pengawasannya.
                
Untuk memberantas korupsi memang diperlukan agenda dan prioritas yang jelas dengan memberikan sanksi kepada pelakunya (law enforcement). Di samping itu perlu dilakukan kampanye kepada masyarakat agar korupsi dipandang sebagai penyakit sosial, tindakan kriminal yang merupakan musuh publik. Bahkan ada wacana hukuman mati bagi pelakunya.
                
Pers sebagai alat kontrol sosial harus diberi kebebasan yang bertanggung jawab dalam mengungkap dan memberitakan tindak korupsi. Pengembangan budaya malu harus disertai dengan upaya menumbuhkan budaya bersalah individu dalam dirinya.

Upaya percepatan pemberantasan korupsi juga sebaiknya dijauhkan dari campur tangan politik. Tujuannya adalah untuk menghindari konflik kepentingan dan intervensi kekuasaan terhadap proses hukum. Reformasi birokrasi akan dapat menjadi syarat pemberantasan korupsi, bila terwujud badan peradilan dan sistem peradilan yang independen, didukung dengan keterbukaan dan sistem pengawasan yang efektif.

Tugas pemerintah dan DPR untuk segera membenahi perangkat undang-undang terkait pencegahan dan pemberantasan korupsi. Ke depan KPK juga harus melaksanakan tugas dan wewenangnya dalam mengakomodasi kepentingan penyelidikan, penyidikan dan penuntutan secara lebih luas dan menyeluruh dan sekaligus menutup peluang munculnya permohonan uji materi.

Perang melawan korupsi adalah proses jangka panjang yang memerlukan keberanian, kebersamaan, langkah-langkah dan jiwa yang besar serta ketulusan nyaris tanpa batas. Yang lebih penting lagi untuk kita renungi bersama adalah selama kita masih korupsi waktu ketika masuk kerja atau pulang kerja maka kita termasuk orang yang andil memperlambat upaya pemberantasan korupsi. 

Kita mungkin tidak bisa korupsi uang yang besar atas proyek-proyek tapi kita tidak sadar melakukan korupsi waktu yang kelihatannya sepele tapi kita lakukan setiap hari. Mari kita mulai memberantas korupsi dari hal terkecil yang bisa kita lakukan. Disiplin masuk kerja dan tidak mangkir kerja merupakan usaha terkecil yang bisa kita lakukan. Kemudian dilanjutkan menuju hal-hal besar yang bisa kita upayakan sebagai bagian dari masyarakat anti korupsi.

Referensi:

Klitgaard R dkk. 2002. Penuntun Pemberantasan Korupsi dalam Pemerintahan Daerah (Terjemahan Marsi Maris). Jakarta: Yayasan Obor Indonesia dan Partnership for Governance Reform in Indonesia.

Maheka. 2005. Mengenali dan Memberantas Korupsi. Jakarta : KPK

Tim Widyaiswara. Percepatan Pemberantasan Korupsi. Semarang: Badan Pendidikan dan Pelatihan Pemerintah Provinsi Jawa Tengah





Minggu, 22 April 2018

Kartini dan Maternal Mortality

April 22, 2018 0 Comments
Sumber : brilio.net

Hingga saat ini kematian ibu (maternal mortality) merupakan suatu permasalahan yang kompleks. Penyebab kematian ibu dapat terjadi secara langsung maupun tidak langsung. Penyebab langsung yaitu akibat perdarahan, eklampsi / preeklampsi, abortus, infeksi, partus lama / persalinan macet dan penyebab lain. Sedangkan penyebab tidak langsung yaitu oleh faktor rendahnya pendidikan ibu atau sosial ekonomi keluarga yang rendah.

Peringatan Hari Kartini setiap tanggal 21 April adalah sebuah peringatan terhadap sosok perempuan yang bernama Ibu Kartini. Beliau diakui sebagai pahlawan perempuan Indonesia yang berjasa mengangkat martabat kaum perempuan dan memperjuangkan emansipasi perempuan.
Kartini wafat pada hari keempat pasca persalinan, artinya wafatnya Kartini masih dalam proses yang berkaitan dengan maternal mortality. Kartini mengalami kehamilan pertama dan dalam proses persalinan meninggal setelah melahirkan putra pertamanya, Raden Mas Soesalit pada tanggal 13 September 1904. Kemudian tanggal 17 September 1904, di usianya ke 25 tahun Kartini wafat.

Penyebab Kematian Ibu Melahirkan

Bila dilihat dari waktu dan proses kejadian pasca persalinan, ibu Kartini wafat pada hari keempat pasca bersalin. Kartini wafat akibat mengalami infeksi pasca persalinan. Tanpa bermaksud menyalahkan taqdir Allah swt, mungkin jika beliau masih hidup beliau masih bisa melanjutkan perjuangan hingga lebih lama. Akan tetapi, di waktu lampau tentu pelayanan kesehatan dan ilmu tentang persalinan masih sangat minim.

Oleh karena itu, sebagai perempuan penting kiranya mengetahui penyebab kematian ibu melahirkan agar bisa melakukan langkah antisipasi sebelumnya. Kematian ibu (maternal mortality) yang dimaksud disini adalah kematian yang terjadi akibat kehamilan, saat proses persalinan, maupun pasca persalinan (masa nifas). Kematian ibu merupakan salah satu indikator dari kesejahteraan suatu bangsa. Jika Angka Kematian Ibu (AKI) sedikit maka bisa dikatakan kesejahteraan masyarakat meningkat.

Ibu atau calon ibu juga perlu mengetahui faktor lain dari penyumbang angka kematian ibu secara tidak langsung. Faktor lain tersebut adalah adanya  5T yaitu Terlalu muda usia ibu saat kehamilan (batasan reproduksi sehat 20-35 tahun); Terlalu tua (kehamilan beresiko pada usia di atas 30 tahun); Terlalu sering (jarak ideal melahirkan 2 tahun); Terlalu banyak (jumlah persalinan lebih dari 4 kali) dan Terlambat upaya penanganan.

Penulis sendiri baru saja melahirkan anak keempat dan masuk pada zona melahirkan dengan resiko tinggi. Oleh sebab itu, penulis intens konsultasi dengan dokter spesialis kandungan agar mendapatkan upaya pencegahan yang benar dan tepat. Selain itu penulis juga bergabung di group whats app ibu hamil dan menyusui agar mendapat ilmu yang lebih banyak terkait melahirkan dan menyusui. Alhamdulillah, dengan izin Allah bisa melahirkan dengan selamat.

Saat Kartini melahirkan mungkin tidak ada dokter spesialis kandungan yang ada waktu itu sehingga sangat disayangkan beliau wafat pasca persalianan terlepas dari taqdir Allah swt. Tetapi di jaman sekarang dengan berbagai fasilitas yang jauh lebih baik, langkah antisipatif untuk mencegah kematian ibu bisa diupayakan. Informasi juga bisa diperoleh baik dari tenaga kesehatan maupun dari internet. Jika sudah ikhtiar tetapi Allah berkehendak lain, itu menjadi hak prerogatif Allah swt.

Solusi Mengatasi Kematian Ibu Akibat Masalah Reproduksi

Ada beberapa solusi untuk mengatasi  masalah kematian ibu akibat proses reproduksi antara lain: menyusui bayi sedini mungkin dengan program IMD (Inisiasi Menyusui Dini), setiap persalinan harus ditolong oleh tenaga kesehatan yang terlatih, setiap terjadi masalah dalam persalinan mendapatkan fasilitas kesehatan dan pelayanan yang memadai. Selain itu bagi perempuan usia subur sebaiknya mempunyai akses terhadap pencegahan kehamilan yang tidak diinginkan dan penanganan komplikasi keguguran.

Bila sebagian besar masyarakat sadar akan pentingnya kesehatan reproduksi ibu dan pentingnya pelayanan kesehatan maternal yang berkualitas, maka sejarah suramnya kesehatan reproduksi yang dialami oleh Kartini dapat dicegah. Jika semua usaha sudah dilakukan ibu semaksimal mungkin hasilnya tinggal pasrahkan kepada Allah swt. InsyaAllah Ia akan memberikan yang terbaik bagi hambanya.

Jika ibu bisa melahirkan dengan selamat dan sehat tentu ia bisa melanjutkan cita-cita Kartini. Ibu-ibu yang sehat akan menjadi pahlawan-pahlawan baru bagi Indonesia. Ia akan terus memberikan kontribusi positif untuk negaranya. Ia juga akan menjadi ibu yang produktif dengan menghasilkan karya-karya besarnya. Mari menjadi ibu yang siap melanjutkan perjuangan Kartini untuk Indonesia yang lebih baik.

Artikel ini telah tayang di http://www.gurusiana.id/article/category/opini tanggal 22 April 2018 pukul 18.16 WIB

Senin, 26 Maret 2018

Peta Konsep Bantu Siswa Pahami Teks Report

Maret 26, 2018 0 Comments
peta konsep bantu siswa pahami teks report
Siswa sedang mempresentasikan hasil peta konsep yang dibuat

Reading Comprehension adalah salah satu keterampilan membaca pemahaman yang harus dikuasai siswa ketika mereka mempelajarai bahasa Inggris. Melalui keterampilan membaca pemahaman, siswa bisa mendapatkan informasi yang lebih dalam terhadap teks tertulis.

Ketika siswa mempelajari teks report, sebagian besar siswa merasa kesulitan untuk memahami teks karena berhadapan dengan teks yang panjang dan kosakata yang cukup sulit dipahami. Teks report, merupakan salah satu genre atau jenis teks dalam bahasa Inggris yang menggambarkan suatu benda atau fenomena alam.


Secara berkelompok memahami teks report dan membuat peta konsep

Lalu, sebenarnya bagaimana struktur teks report itu? Struktur teks report terdiri dari Pertama, General Opening Statement yang berisi pengantar untuk menerangkan subjek yang akan dibahas. Kedua bagian Description atau deskripsi. Bagian ini berisi penjabaran dari hal-hal yang akan dibahas. Inti pembahasan berpedoman pada bagian pertama. Dan ketiga adalah conclusion atau kesimpulan.

Dikarenakan kesulitan memahami teks report, akhirnya banyak siswa mendapatkan nilai yang rendah dalam tes reading comprehension. Prestasi yang rendah mengindikasikan bahwa siswa masih lemah dalam keterampilan membaca pemahaman.

Maka guru perlu menyusun sebuah metode pembelajaran  yang menarik untuk mengatasi  persoalan tersebut. Salah satu metode yang bisa digunakan adalah “concept mapping” atau peta konsep. Peta konsep diprakarsai oleh Novak yang menekankan pada pentingnya pengetahuan sebelumnya dalam mempelajari konsep baru. Peta konsep adalah konsep yang ditandai dengan lingkaran atau kotak dan menggunakan garis penghubung atau kata hubung yang mengindikasikan hubungan antar konsep (Kalhor, 2012: 725).


Guru menjelaskan cara membuat peta konsep kepada siswa

Siswa dikatakan menguasai keterampilan membaca pemahaman apabila memiliki beberapa indikator, di antaranya siswa bisa menemukan informasi khusus dalam teks dengan tepat, siswa bisa mendapatkan sinonim dari istilah tertentu dalam teks dengan benar, siswa bisa menentukan antonim dari kata tertentu secara akurat, siswa bisa menemukan informasi tersirat dalam teks dengan benar dan siswa bisa menentukan ide pokok dari setiap paragraf dalam teks.

Lalu bagaimana langkah memahami teks report menggunakan metode Peta Konsep? Mulailah dari menuliskan topik dari teks yang dibaca. Kemudian identifikasi konsep yang relevan mulai dari yang paling umum, sedang dan yang paling khusus. Ini dilakukan dengan membaca setiap paragraf dan menemukan kata kuncinya.


Hasil Peta Konsep yang dibuat siswa

Selanjutnya gambarlah sebuah peta konsep di atas kertas. Hubungkan konsep yang berkaitan dengan cara menggambar sebuah garis dengan menuliskan kata kunci yang mengaitkan antar konsep. Berilah kata penghubung pada setiap garis penghubung tersebut. Terakhir lihat kembali peta konsep yang telah dibuat dan adakan revisi jika masih ada yang salah atau tambahkan bila masih ada yang kurang.

Kelebihan

Ada banyak jenis concept map yang bisa digunakan diantaranya hierarchical map, spider map, flowchart map, dan  system map. Spider Concept Map (Peta konsep laba-laba) lebih cocok digunakan untuk memahami teks report dibanding jenis peta konsep yang lain. Jenis ini menampilkan baik konsep secara hierarki maupun elemen-elemen yang dihubungkan dengan konsep utama. Selain itu jenis peta konsep ini disusun dengan menempatkan tema utama atau faktor utama di tengah peta konsep.


Peta Konsep Laba-laba karya siswa

Peta konsep sangat bermanfaat bagi siswa maupun guru. Peta konsep dapat menolong guru mengorganisasi seperangkat pengalaman belajar secara keseluruhan yang akan disajikan. Selain itu peta konsep merupakan cara yang baik dalam menghadirkan materi pelajaran.

Hal ini disebabkan peta konsep adalah alat belajar yang tidak menimbulkan efek verbal bagi siswa karena siswa dengan mudah melihat, membaca dan mengerti makna dari sebuah teks. Peta konsep juga sangat membantu guru  meningkatkan efisiensi dan efektivitas pengajaran.


Sedangkan manfaat yang bisa diambil oleh siswa dari peta konsep adalah memudahkan siswa membuat catatan dan mengingatnya kembali karena disusun secara visual. Selain itu peta konsep merupakan cara belajar yang mengembangkan proses belajar yang bermakna, yang akan meningkatkan pemahaman siswa dan daya ingat belajarnya. Peta konsep juga dapat meningkatkan keaktifan dan kreativitas berfikir siswa, yang pada gilirannya akan menimbulkan sikap kemandirian belajar yang lebih pada siswa.

Kelebihan lainnya adalah mampu mengembangkan struktur kognitif yang terintegrasi dengan baik, yang akan memudahkan belajar. Terakhir tapi tidak kalah penting adalah dapat membantu siswa melihat makna materi pelajaran secara lebih komprehensif dalam setiap komponen konsep- konsep dan mengenali miskonsepsi.