Follow Us @soratemplates

Rabu, 07 Maret 2018

Berawal dari Profesi Tukang Loper Koran

Maret 07, 2018 4 Comments
Berawal dari Tukang Loper Koran

Ketika saya mengutarakan keinginan saya untuk kuliah, ibu langsung marah dan menarik saya di depan cermin, “Kamu tuh ngaca anak siapa, kamu hanya anak seorang buruh nggak usah mempunyai cita-cita yang tinggi. Orang tuamu ini hanya mengandalkan dengkul (lutut), kalau dengkul nya capek terus sakit  ya nggak dapat uang”. Saya pun menangis tanpa menjawab satu katapun.

Kejadian sekitar 25 tahun yang lalu tersebut masih membekas dalam ingatan hingga hari ini. Seandainya waktu itu saya tidak nekat menentukan jalan saya sendiri, mungkin kisah yang kini saya jalani berbeda. Mungkin sekarang saya tidak menjadi guru bahasa Inggris di sebuah SMP.

Nama saya adalah Puji Narima Wati. Biasa dipanggil Puji. Saya lahir di Temanggung, 30 Maret 1983. Sejak kecil saya tinggal dengan orang tua di Temanggung. Kota yang sangat dingin, berdekatan dengan Gunung Sindoro dan Gunung Sumbing. Saya adalah anak kedua dari dua bersaudara. Kakak saya perempuan bernama Lusiana, seorang penjahit dan juga pedagang. 

Orang tua saya berharap ketika saya lahir adalah laki-laki karena sudah mempunyai anak perempuan sebelumnya. Tapi apalah daya taqdir berkata lain. Akhirnya, orang tua menerima dan saya diberi nama Puji Narima Wati yang artinya sebuah doa agar menjadi wanita yang “nrimo ing pandum” atau qanaah dalam bahasa Arab.

Ayah saya seorang kuli bangunan dan ibu saya seorang penjahit. Saya berasal dari keluarga yang kurang mampu. Ayah dan ibu saya dipertemukan karena memiliki kisah yang sama yaitu orang tua yang sama-sama bercerai dan sama-sama tidak dirawat oleh orang tua. Ayah sebagai anak sulung harus merawat 2 orang adik laki-lakinya, sedangkan ibu harus ikut pakde karena nenek saya sudah tidak mampu membiayai. Ayah dan ibu bukan orang yang berpendidikan. 

Ayah hanya mampu bersekolah sampai kelas 2 SD sedangkan ibu sampai kelas 5 SD. Ibu dirawat oleh pakdenya karena tidak memiliki anak. Ibu sedikit beruntung di usia tuanya ikut ujian persamaan SD sehingga punya ijazah persamaan SD. Kakek nenek saya bercerai dan masing-masing menikah lagi sehingga jumlah kakek nenek saya menjadi 8 orang.

            Semasa kecil saya sering mendengarkan keributan ayah dan ibu khususnya masalah ekonomi. Rasanya bosan mendengar percekcokan tentang uang dan uang. Belum lagi 2 paman yang ikut tinggal bersama kami sering menjadi alasan pertengkaran ayah dan ibu. Saya dan kakak saya terbiasa melihat kerja keras orang tua dalam bekerja. Ayah sering membawa pulang pekerjaannya dan menyuruh kami membantu. Ibu juga sering lembur jahitan sampai larut malam terutama menjelang lebaran. 

           Saya sering membantu ayah mengubah besi kecil menjadi bentuk kotak-kotak sesuai dengan ukuran yang ditentukan untuk digunakan sebagai tiang besi membangun rumah atau kadang mengangkut batu bata dan pasir. Ibu pun menyuruh saya untuk memasang kancing, mengobras baju dan pekerjaan menjahit lainnya jika saya ingin tetap mendapatkan uang saku. 

            Itulah yang membuat saya dan kakak saya harus berbagi tugas mengerjakan seluruh pekerjaan rumah tangga sejak kecil mulai menyapu, mencuci, menyetrika dan memasak. Bahkan mengecat rumah menjelang lebaran pun saya dan kakak saya yang mengerjakan, karena ayah pasti banyak orderan menjelang lebaran.

            Ayah saya tidak begitu paham dengan agama tapi ibu sedikit-sedikit mengerti tentang hukum sholat dan bisa membaca Al Quran walau tidak begitu lancar. Namun demikian, setiap hari ibu menyuruh saya mengaji di TPA di tetangga desa agar bisa membaca Al Qur’an. Anehnya walaupun ayah tidak sholat tetapi sering mengingatkan saya untuk sholat dan mengaji. 

          Sejak kecil beliau selalu menasehati saya untuk selalu rajin beribadah, jujur dan baik terhadap sesama.”Ayah nggak bisa sholat nggak bisa ngaji, ntar kamu kalau masuk surga panggil ayah ya!”, begitu pesan beliau setiap kali saya mengajak sholat. Walaupun sekarang akhirnya sudah rajin sholat, akan saya ceritakan kisah beliau akhirnya mau sholat di tulisan yang lain.

            Walaupun ayah tidak paham agama, alhamdulillah ada salah satu paman yang tinggal bersama kami yang banyak paham tentang agama. Saya diajari sholat dan mengaji bahkan kadang diajak ke beberapa masjid yang mengundang beliau untuk mengisi pengajian. Beliaulah orang yang pertama kali memberikan inspirasi tentang pendidikan khususnya pendidikan agama dan mengajari saya bahasa Jawa halus. 

         Paman saya selalu berpesan, “Pendidikan yang akan mengubah ekonomi kita, kamu harus pinter biar bisa jadi orang sukses. Kita nggak punya sawah, ayahmu pun nggak punya warisan apa-apa. Hanya pendidikan yang jadi harapan kita untuk lepas dari kemiskinan ini”. Paman saya ini bisa sekolah sampai SMP juga karena beasiswa kemudian masuk SPG juga karena beasiswa. Selain itu ada guru mengaji saya yang juga membantu biaya sekolah paman. Ayah saya hanya membiayai transport dan makan waktu itu karena sekolahnya jauh dan beda kabupaten. Alhamdulillah, paman saya pun juga terbiasa mandiri sejak kecil. 

            Setelah lulus dari SPG, paman saya menjadi agen koran “Wawasan” dan majalah “Estafet” sambil menunggu lowongan pekerjaan menjadi PNS, paman menjadi guru wiyatabakti di sebuah SD. Beliau yang mencari pelanggan baik di desa kami maupun di luar desa kami. Uang hasil tabungan mengajar beliau kumpulkan dan digunakan untuk membeli sepeda onthel.  

            Tahun 1987, saya dan kakak saya menjadi tukang loper koran membantu paman sekaligus untuk mencari tambahan uang saku. Saya  masih duduk di bangku SD waktu itu sedangkan kakak saya SMP. Kami berbagi tugas. Paman saya dan tetangga saya mengantar koran serta majalah ke pelanggan yang jauh rumahnya dengan mengendarai sepeda. Sedangkan saya dan kakak saya mengantar koran dan majalah di sore hari atau hari libur di tetangga terdekat yang bisa ditempuh dengan berjalan kaki.

           Kami senang sekali ketika mengantar ke beberapa pelanggan yang baik dan perhatian kepada kami. Ada beberapa pelanggan yang masih saya ingat wajah dan namanya sampai sekarang yang sering memberikan hadiah kepada kami. Mereka kadang memberi uang jajan atau makanan bahkan mendoakan kami agar kelak kami jadi orang yang sukses. “Aamiin”, jawab kami serempak. 

         Walau hujan datang kami tetap mengantar koran dan majalah ke pelanggan. Kami bungkus koran tersebut dengan plastik rapat-rapat agar tidak basah. Pernah kami mengantar koran dalam keadaan hujan deras akan tetapi rumah pelanggan kosong dan nampaknya mereka sedang bepergian maka kami pulang. Hari berikutnya kami mendatangi rumah tersebut kembali. Bagi kami tak apalah kerja dua kali yang penting pelanggan koran puas dengan pelayanan kami.

            Nah lebih senang lagi kalau pas tanggal muda sekitar tanggal 1 sampai dengan tanggal 5. Sebagian besar pelanggan koran kami berprofesi sebagai PNS. Para pelanggan koran tersebut membayar uang koran dan majalah secara bulanan. Kami membawa buku khusus, pulpen dan tas kecil yang berisi uang. Untuk harga eceran waktu itu Rp. 350,00 per eksemplar dan untuk harga mingguan Rp. 750,00 per eksemplar. Sehingga mereka membayar Rp. 3000,00 setiap bulannya.

               Setelah uang terkumpul kami setorkan ke paman kami. Saya dan kakak saya masing-masing mendapat uang Rp. 10.000,00 setiap bulannya. Nominal tersebut sangat besar bagi anak kecil seperti kami. Sebagian ditabung sebagian lagi untuk jajan, membeli keperluan sekolah dan mentraktir teman di sekolah. Teman saya pasti menagih untuk ditraktir setiap tanggal muda. Dan saya bahagia sekali bisa mentraktir mereka dengan uang saku saya sendiri.

Selain mendapat tambahan uang, menjadi tukang loper koran juga memperoleh tambahan ilmu pengetahuan secara gratis. Saya masih ingat dengan persis setiap hari kami berebut membaca koran Wawasan halaman 6. Di halaman tersebut ada cerita bersambung yang sangat menarik bagi keluarga kami yang berjudul “Kamajaya”. Kalau sudah baca ceritanya pasti akan penasaran menunggu cerita selanjutnya. Benar-benar membuat kita ketagihan. Setelah membaca cerita “Kamanjaya” baru membaca berita yang lain mulai berita di halaman depan menuju halaman-halaman selanjutnya. 

Berawal dari membaca Koran Wawasan tersebut hobi membaca saya dimulai. Saya dan kakak saya suka sekali membaca koran dan melihat gambar-gambar di koran. Maklum waktu itu hiburan televisi belum banyak menawarkan program seperti sekarang. Apalagi koran hari Minggu merupakan hiburan tersendiri karena ada halaman khusus anak-anak.

            Ada juga keasyikan lain yang ditunggu-tunggu yaitu rubrik quiz. Pernah suatu hari ada quiz yang bekerja sama dengan obat flu. Kami sekeluarga mengirim quiz semua. Dan kami terkejut karena kami semua mendapat hadiah yang sama yaitu payung yang bertuliskan “Wawasan”. Payungnya juga sangat besar dan kuat. Betapa gembiranya hati kami karena harga payung pada waktu itu sangat mahal padahal di tanah kelahiran saya curah hujan tinggi. Jadi hadiah tersebut bermanfaat sekali bagi kami. Bahkan tetangga sering sekali meminjamnya. Mereka tahu kalau kami memiliki 5 payung baru.

            Tidak hanya hadiah dan uang yang kami dapat, tetapi juga saudara baru. Banyak sekali teman-teman paman sesama agen atau wartawan yang datang ke rumah untuk silaturohim bahkan menginap di rumah kami. Mereka adalah orang-orang yang sukses di bidang kepenulisan. Saya dan kakak saya bisa berlama-lama mendengar cerita tentang pengalaman mereka dalam dunia tulis menulis. Kadang-kadang mereka memperlihatkan tulisan mereka yang dimuat di koran. Mereka juga memperlihatkan photo mereka dimuat di koran tersebut dengan bangga. Nah, cerita pengalaman seperti ini yang memberikan inspirasi bagi saya dan memotivasi saya untuk bisa menulis seperti mereka.

Hobi membaca koran Wawasan tidak langsung membuat saya bisa menulis. Saya sering sedih kalau mendapat PR Bahasa Indonesia tentang mengarang. Saya bingung harus memulai dari mana. Namun, paman saya membimbing saya dengan sabar. Dia mengajari saya membuat kerangka karangan terlebih dahulu sebelum membuat karangan baru kemudian mengembangkannya. 

Waktu itu saya jengkel karena saya maunya dibuatkan langsung bukan malah muter-muter penjelasannya. Tapi paman saya tetap tidak mau, kalau saya ngambek dia langsung melotot yang membuat saya takut dan menuruti segala perintahnya. Beliau berpesan, “Kalau ingin bisa menulis ya harus banyak baca jangan cuma cerita Kamanjaya saja yang dibaca”, begitu sindir beliau ketika menyemangati agar saya juga harus membaca banyak buku agar bisa menulis.

Akhirnya saya bisa mengarang dengan teknik yang diajarkan paman saya. Setiap ada tes mengarang saya mesti minta nambah kertas. Waktu itu saya hanya berpikir yang tulisannya banyak nilainya tinggi, yang tulisannya rapi juga nilainya tinggi. Saya hanya fokus pada banyaknya kata yang bisa saya hasilkan dan kerapian dari tulisan saya. Saya belum paham tentang pemilihan kata harus bagus, saya juga belum paham tentang aturan kohesi dan koherensi. Pokoknya yang penting nulis. 

Ketika kelas 4 SD, wali kelas saya pada waktu itu menunjuk saya untuk mewakili sekolah mengikuti lomba mengarang di tingkat kecamatan. Walaupun belum juara 1 cukup menyemangati saya untuk belajar menulis lebih giat lagi. Saya membeli buku kecil yang khusus saya gunakan untuk menulis. Disitu saya tulis apa saja yang saya rasakan.

            Akan tetapi dibalik berbagai cerita suka menjadi tukang  loper koran, ada beberapa cerita duka didalamnya. Selain saya dan kakak saya yang membantu paman, ada lagi adik tiri ayah yang juga ikut membantu. Beliau satu ibu beda ayah dengan paman dan ayah saya. Waktu itu beliau kelas 6 SD. Beliau diminta paman mengambil koran di kantor pusat. Setelah turun dari bis beliau hendak menyeberang jalan menuju rumah. Tiba-tiba sebuah mobil menabraknya. Saya mendengar suara klakson dibunyikan dengan keras kemudian disusul suara rem yang melengking karena diinjak mendadak. Kami berlari menuju jalan raya yang jaraknya sekitar 50 meter dari rumah. Kami mencoba mencari tahu siapa yang tertabrak oleh mobil tersebut. 

              Alangkah terkejutnya kami ketika melihat banyak koran sudah bercampur dengan darah dan berhamburan di jalan raya. Dan seketika lemas badan ini melihat paman tiri kami sudah bersimbah darah dan dinyatakan meninggal oleh tetangga kami yang kebetulan bekerja sebagai perawat di rumah sakit. Nenek kami berkali-kali pingsan mendengar berita ini. Paman tiri kami tersebut adalah anak kesayangan nenek. Kata nenek anaknya rajin dan penurut. 

           Walaupun saya masih kecil waktu itu tapi saya sudah bisa menangis dan merasakan orang yang disayang meninggal. Saya merasa kehilangan sekali. Beliau sering membantu PR menggambar dan mewarnai karena saya sangat lemah di pelajaran tersebut. Dan seluruh keluarga besar kami harus ikhlas menerima kepergiannya.

            Hal yang menyedihkan berikutnya adalah ketika paman kami sebagai agen koran diterima menjadi PNS di suatu daerah terpencil. Di satu sisi kami senang karena paman menjadi PNS tetapi itu artinya beliau tidak bisa lagi menjadi agen koran dan majalah. Artinya pula saya dan kakak saya akan kehilangan pekerjaan sebagai tukang loper koran. 

              Kepemilikan agen koran akhirnya dijual ke orang lain yang rumahnya berseberangan dengan desa kami. Di situlah kami sedih kehilangan pekerjaan dan kehilangan kesempatan baca koran gratis. Sejak saat itu kami tidak pernah membaca koran lagi. Tapi kami bersyukur dengan menjadi tukang loper koran kami memiliki hobi membaca dan menulis.

            Beranjak remaja dan duduk di SMP saya menyalurkan hobi menulis di buku diary saya. Tetapi suatu hari semua tulisan di buku diary saya dibaca oleh kakak saya dan membuat saya sangat malu. Kakak saya mengetahui semua rahasia yang saya tulis di buku tersebut. Sejak saat itu saja tidak mau menulis di buku diary lagi takut rahasia saya terbongkar. Nyaris selama di SMP sejak kejadian itu saya tidak menulis lagi, kecuali surat kepada kakak saya yang kerja di Bogor.

            Setelah lulus SMP saya mendaftar di SMA favorit di kota saya. Akan tetapi setelah diterima saya tidak diijinkan orang tua saya. Kata mereka kalau di SMA tidak bisa langsung kerja harus kuliah dulu. Akhirnya orang tua menyuruh saya masuk SMK. Saya harus masuk SMK Negeri seperti kakak saya. Sedih sekali waktu itu. Saya mengurung diri di kamar. 

           Sejak kecil, saya memang punya cita-cita untuk kuliah. Ketika saya mengutarakan keinginan saya untuk kuliah, ibu langsung marah dan menarik saya di depan cermin, “Kamu tuh ngaca anak siapa, kamu hanya anak seorang buruh nggak usah mempunyai cita-cita yang tinggi. Orang tuamu ini hanya mengandalkan dengkul (lutut), kalau dengkul nya capek terus sakit  ya nggak dapat uang”. Saya pun menangis tanpa menjawab satu katapun. Waktu itu yang saya rasakan hanyalah perasaan kecewa yang teramat sangat. Di satu sisi saya kasihan dengan keadaan ekonomi keluarga, di sisi yang lain keinginan untuk kuliah begitu menggebu.

            Seminggu menjalani sekolah di SMK jurusan akuntansi tidak begitu menyenangkan sampai saya bertemu dengan teman sebangku saya yang juga mengalami nasib yang sama. Dari kesamaan itu kami menjadi akrab dan nyambung ketika bercerita. Kami saling menyemangati walaupun sekolah di SMK kita tidak boleh minder, itu prinsip yang kemudian kami sepakati bersama. Kelas satu hingga kelas 3 saya sekelas dan sebangku terus bersamanya. Alhamdulillah di SMK mendapat beasiswa sehingga bisa membantu orang tua membayar uang SPP bulanan. Di akhir kelulusan juga mendapat peringkat 2 kelas pararel untuk NEM tertinggi.

            Kebingungan setelah lulus SMK pun dimulai.  Orang tua menyuruh saya kerja di Bogor di sebuah perusahaan garmen mengikuti kakak saya. Kakak saya tidak kuliah. Dia tidak tega melihat kondisi keuangan keluarga. Apalagi waktu itu tahun 1998 sedang terjadi krisis moneter. Untuk makan sehari-hari kadang kami harus menggadaikan magic com, piring, kain jarit atau selusin sendok. “Aku dah capek denger ributnya bapak dan ibu, aku pengin kerja dan dapat uang banyak terus bisa kirim ke orang tua”, begitu jawab kakak saya ketika saya tanya alasan tentang ketidakmauannya untuk kuliah.

Nah, berbeda sekali dengan saya. Keinginan saya untuk kuliah begitu menggebu hingga tak terbendung lagi. Saya mengutarakan keinginan kuliah saya kepada ayah. Dengan bijaksana, beliau memberikan alasan yang membuat saya menunduk malu. Ibu pun menguatkan pendapat ayah. Faktor ekonomilah yang menjadi kendala saya tidak bisa kuliah. 

Saya kemudian pergi ke rumah sepupu ayah yang anaknya kuliah di Jogja. Saya minta tolong dicarikan kampus yang memberikan beasiswa. Alhamdulillah ada perguruan tinggi swasta di Jogja yang menerima saya dan memberikan beasiswa di jurusan Bahasa Inggris. Tapi orang tua masih juga keberatan. Mereka masih khawatir dengan biaya hidup saya di Jogja. Saya terus meyakinkan orang tua bahwa saya nanti bekerja sambil kuliah. Jika tidak kuat melanjutkan saya akan ambil cuti. Saya juga minta bantuan kakak yang di Bogor dan paman saya yang PNS untuk membantu biaya kuliah saya. Alhamdulillah mereka menyanggupi. Bahkan nenek saya membantu menyediakan beras agar saya bertahan hidup. Saya datang ke rumah nenek setiap dua minggu sekali.

Setelah 4 tahun akhirnya saya lulus. Selama kuliah saya bekerja menjadi guru TK di pagi hari kemudian les privat di sore dan malam hari. Khusus hari Sabtu Minggu saya kerja menjadi karyawan tata usaha di sebuah perguruan tinggi swasta. Di sini saya baru menyadari bahwa ilmu SMK saya bermanfaat. Beruntung saya menuruti orang tua masuk SMK waktu itu.

Walaupun kuliah dan bekerja saya juga menyukai organisasai. Saya gabung dengan beberapa organisasi di kampus. Saya ikut beberapa organisasi keislaman dan juga BEM Universitas. Dan ada satu organisasi yang mendukung hobi membaca dan menulis yang juga saya tekuni yaitu Reading and Writing Society. Di komunitas inilah saya kembali tersemangati untuk membaca banyak buku dan kemudian menuliskannya dengan bahasa saya sendiri dan kemudian mempresentasikan hasil review terhadap buku yang dibaca kepada teman-teman yang lain. 

Kebiasaan presentasi ini juga membuat saya lebih berani ketika harus mewakili teman-teman mengikuti lomba English Debate dan meraih juara ketiga. Selain itu kebiasaan membaca dan menulis membuat saya lebih mudah dalam mengerjakan skripsi saya. Sehingga dengan pertolongan Allah skripsi saya 2 bulan selesai saya kerjakan. Saya ambil cuti tidak bekerja karena ingin fokus mengerjakan skripsi. Alhamdulillah Allah menolong saya dan mempertemukan saya dengan orang-orang yang baik, yang meminjami komputer, yang meminjami sepeda motor, yang mengajak saya ke perpustakaan dengan buku-buku lengkap sesuai yang saya cari. Skripsi dengan judul “The Biographical Approach of House of Seven Gables” akhirnya selesai juga.

Tahun 2006 tepatnya, saya lulus dari kampus Universitas Ahmad Dahlan dengan predikat cumlaude. Orang tua saya, paman dan kakek saya datang ke gedung tempat saya di wisuda. Begitu mereka melihat saya memakai toga, mereka langsung sujud syukur di karpet yang ada di gedung tersebut. Otomatis semua mata memandang. Beberapa menit kami menjadi tontonan para wisudawan dan orang tua wisudawan pada waktu itu. Kami berpelukan terharu. Orang tua merasa tidak percaya akhirnya saya menjadi sarjana. Banyak yang ikut menangis melihat kami, terutama teman-teman satu kos yang tahu persis kondisi ekonomi saya. Kami semua bersyukur sampai pada titik ini. Ternyata hobi menulis diary turut serta membantu kemudahan dalam menulis skripsi. Tentu dengan ijin Allah.

Setelah lulus, saya masih melanjutkan bekerja menjadi karyawan tata usaha di tempat semula. Saya merasa hutang budi karena saya dipinjami uang untuk biaya wisuda. Saya merasa mendapatkan lingkungan bekerja yang sangat menjunjung tinggi asas kekeluargaan. Mereka juga mengangkat saya menjadi dosen tetap. Bahkan menawari beasiswa untuk S2 tetapi tidak full. Oleh karena itu saya menabung untuk menggenapkan beasiswa tersebut.

Akan tetapi di tengah perjuangan saya mengumpulkan tabungan untuk biaya S2 datanglah seorang laki-laki melamar saya. Saya kemudian istikharah dan saya memutuskan menikah dengan lelaki yang sekarang menjadi suami saya dengan uang tabungan tersebut. Tidak sampai 1 bulan dari perkenalan, proses lamaran dan akad nikah. Benar-benar super kilat hubungan kami. 

Sudah menjadi tradisi di desa kami jika tidak mampu menyelenggarakan resepsi pernikahan dan tidak menerima sumbangan memasang bendera merah. Jadi ketika ada bendera merah di depan rumah kami tetangga tidak datang yang hadir hanya keluarga besar, kepala keluarga satu RW dan beberapa teman saya. Hanya ada akad nikah, pengajian dari seorang ustadz, sambutan tokoh masyarakat kemudian makan siang. Acara hanya berlangsung sehari saja di sebuah masjid di sebelah rumah saya. Sederhana sekali acaranya. Alhamdulillah sah.

Dari pernikahan di tanggal 15 Juli 2007 sampai sekarang, kami dikaruniai 3 anak yaitu Syahida Asma Amanina (10 tahun), Daffa Izzuddin Asy Syidqi (8 tahun) dan Fachri Muhammad Arsyad (5 tahun). Dan sekarang saya sedang mengandung anak keempat usia 9 bulan. Selama 10 tahun saya tinggal di Jogja. Kemudian orang tua menyuruh saya mendaftar PNS. Awalnya saya tidak mau. Saya khawatir tidak bisa membagi waktu untuk anak-anak. Akan tetapi demi orang tua saya ikut tes PNS. Dan akhirnya saya diterima menjadi guru di SMP N 2 Leksono Wonosobo.

Awalnya suami menyuruh mundur karena daerahnya terpencil jauh dari perkotaan. Apalagi suami masih di Jogja kerjanya. Tetapi dengan dukungan orang tua saya akhirnya tetap mengambil posisi tersebut. Selama 2,5 tahun kami LDR. Suami seminggu sekali pulang. Saya kontrak rumah di dekat sekolah dengan 2 anak saya waktu itu.

Selang 2,5 tahun Alhamdulillah bisa mutasi ke SMP N 2 Selomerto Kabupaten Wonosobo. Tempatnya di pinggir jalan. Kami pindah kontrakan lagi mendekati sekolah. Lama-kelamaan suami mungkin kasihan dengan saya dan ikut pindah di Wonosobo. Suami laju Wonosobo-Jogja setiap hari kadang 2 hari sekali baru pulang.

Di Wonosobo inilah kesempatan menulis kembali muncul. Awalnya saya sering menulis di buletin sebuah organisasi muslimah, kemudian saya bagi-bagi ke teman kantor. Mungkin karena kepala sekolah melihat saya sering menulis saya diberi amanah untuk mengampu ekstrakurikuler Jurnalistik. Saya sebenarnya buta dengan kepenulisan jurnalistik. Dari situlah saya kemudian mengundang wartawan untuk mengisi workshop tentang jurnalistik. Saya mendapatkan banyak materi tentang straight news, feature news dan opini. 

Berbekal ilmu jurnalistik yang seujung kuku itu saya kemudian mencoba membuat beberapa tulisan dan mengirimkan ke beberapa lomba. Alhamdulillah meraih Juara 3 Lomba Menulis Artikel tingkat Kabupaten dan Juara 3 Lomba Menulis Essay tingkat Propinsi. Kemudian berani mengirim tulisan ke Wawasan dan dimuat di rubrik Guru Menulis dengan judul “Guru, Generasi Alpha dan Indonesia Emas 2045” (Dimuat di Koran Wawasan Hari Selasa, 14 November 2017). Sekarang mulai berani mengirim di Jateng Pos Alhamdulillah dimuat di surat kabar tersebut dengan judul “Belajar Speaking Menyenangkan dengan Model Two Stay Two Stray” (dimuat hari Jum'at tanggal 2 Maret 2018).

Dengan sedikit pengalaman menulis saya beranikan diri untuk membimbing siswa-siswi yang ikut ekstrakurikuler Jurnalistik dan Photografi. Kami di tim Jurnalistik membuat buletin sekolah sebagai wadah untuk menyalurkan bakat dan minat di dunia kepenulisan. Saya juga sambil belajar terutama masalah ejaan yang masih amburadul. Biasanya saya meminta bantuan guru bahasa Indonesia untuk mengoreksi. 

Dari buletin yang dibuat kami beranikan untuk mengikuti lomba karya jurnalistik. Alhamdulillah beberapa kali menjuarai baik di tingkat kabupaten, provinsi maupun nasional. Prestasi dari tim jurnalistik sampai sekarang diantaranya Juara 2 lomba jurnalistik tingkat nasional (Medali Perak) tahun 2014 di Jogjakarta, Juara 2 lomba penulisan berita tingkat kabupaten tahun 2014, Juara 3 lomba fotografi tahun 2014, Juara 1 lomba karya tulis ilmiah tingkat kabupaten dan maju propinsi tahun 2014.

 Selain itu juga meraih Juara 3 Lomba Jurnalistik tingkat nasional (Medali Perunggu) tahun 2015, Juara 1 Lomba Jurnalistik tingkat kabupaten tahun 2016, Juara 1 Lomba Photografi tingkat kabupaten tahun 2016, Juara 1 Lomba Mading Digital Tema Anti Narkoba tingkat Kabupaten tahun 2016, Juara 1 Lomba Mading Digital Tema Generasi Berencana tingkat Kabupaten tahun 2016, Juara 2 Lomba Writing Contest Jenis Recount text tingkat Kabupaten tahun 2016, Juara 1 Lomba Penelitian Siswa Nasional Tingkat Propinsi tahun 2017, Juara 2 (Medali Perak) Lomba Penelitian Siswa Nasional Tingkat Nasional tahun 2017 dan Juara 1 Lomba Karya Ilmiah Remaja Tingkat Propinsi tahun 2017.

Dari prestasi tim jurnalistik di sekolah kami tersebut ternyata mendapat apresiasi dari pemerintah kabupaten Wonosobo melalui beberapa penghargaan berupa piagam dan sejumlah uang.  Penghargaan yang pernah kami terima diantaranya: Penghargaan kepada tim Jurnalistik dari Bupati Wonosobo tahun 2014, dari ketua DPRD Wonosobo tahun 2014, dari Gubernur Jawa Tengah tahun 2015 dan dari ketua DPRD Wonosobo tahun 2015. 

Sejak tahun 2016 kami sangat bersedih karena Lomba Karya Jurnalistik Nasional dihilangkan karena kendala pendanaan. Selain itu karena alasan pungutan liar (pungli) buletin sekolah juga dilarang terbit. Lengkaplah sudah penderitaan kami di dunia tulis menulis. Itu membuat siswa saya tidak semangat lagi untuk menulis. Saya terus memotivasi mereka agar tetap semangat menulis walaupun tidak ada lomba. Saya menyerankan mereka untuk menulis di facebook atau media sosial yang lain.

Sebagai guru tuntutan untuk menulis di beberapa tahun terakhir ini juga sangat didengungkan oleh pemerintah. Setelah mengikuti pelatihan penyusunan Penelitian Tindakan Kelas yang diselenggarakan oleh Dinas Kabupaten, saya termotivasi untuk menulis PTK. Saya mencoba membuat PTK dengan judul “Peningkatan Kemampuan Berbicara dan Prestasi Belajar Bahasa Inggris melalui Model Two Stay Two Stray Kelas VIIB SMP Negeri 2 Selomerto Semester 2 Tahun Pelajaran 2015/2016”. Dan Alhamdulillah berhasil diseminarkan di depan rekan guru satu sekolah dan mengundang beberapa guru dari luar. Rasanya lega luar biasa ketika tulisan kita mendapat apresiasi dari orang lain. Kemudian tulisan tersebut saya kirim ke penerbit jurnal. Alhamdulillah masuk di Jurnal Ilmiah tingkat provinsi yang sudah mempunyai ISBN. 

Selain itu artikel saya  juga pernah dimuat di majalah GOW Kabupaten Wonosobo dengan judul “Dengan Penerapan MIOnKlok Ibu Mampu Mencetak Generasi Penentu Peradaban di Era Digital” dan essay saya dimuat di majalah Salimah dengan judul “Mahalnya Waktu Orang Tua untuk Anak”. Selain menulis artikel saya belajar menulis buku dan sudah dicetah tahun 2016 dengan judul  English For Children. Tapi saya merasa belum puas, saya masih pengin belajar menulis dari berbagai pelatihan untuk memperindah tulisan saya. Saya masih iri dengan tulisan para penulis yang sangat indah dalam memilih kosakata. Saya masih jauh ketinggalan.

Di tahun 2015, ada tawaran beasiswa dari Dinas Pendidikan untuk melanjutkan S2. Saya mencoba ijin dengan suami dan Alhamdulillah diijinkan. Di tahun 2017 alhamdulillah lulus dengan predikat Lulusan terbaik dan cumlaude. Judul Thesis yang saya ambil“The Effect of Concept Mapping in Improving Reading Comprehension Viewed From Student’s Motivation (An Experimental Study in the Ninth Grade of State Junior High School 2 Selomerto, Wonosobo in the First Semester of Academic Year 2016/ 2017. Sampai akhir lulus ternyata beasiswa tidak turun, tetapi Allah mampukan saya untuk membayar biaya kuliah. Saya tetap mendapat gaji dari pemerintah karena saya ambil kuliah di akhir pekan dan saya masih bekerja 5 hari di sekolah. Sungguh melelahkan, apalagi waktu libur yang harusnya bersama keluarga diambil untuk kuliah.

Sungguh, semua tulisan ini ada karena bantuan Allah. Saya hanya ingin anak-anak saya kelak mempunyai kebiasaan membaca dan menulis. Saya hanya ingin anak-anak saya tidak kecanduan gadget, biarlah mereka kecanduan buku dan kecanduan menulis. Biarlah sekarang uang yang ada habis untuk membeli buku-buku bergizi dan mendirikan perpustakaan di rumah. Daripada membeli banyak mainan dan akhirnya dibuang atau jajan yang tidak sehat. Semoga suatu saat nanti kami bisa mendidik anak-anak kami untuk menjadi penulis.. Seorang tukang loper koran dengan penuh keterbatasan saja mau membaca dan menulis. Apalagi anak-anak jaman sekarang yang penuh dengan fasilitas harus bisa menghasilkan karya-karya hebat yang akan merubah dunia dengan tulisannya. 
Wallahu a’lam bi showab

Senin, 05 Maret 2018

Keelokan Telaga Menjer dari Bukit Seroja

Maret 05, 2018 0 Comments
Pemandangan Telaga Menjer dari Bukit Seroja

Photo Pemandangan Telaga Menjer dari Bukit Seroja


Asal Usul Telaga Menjer

Kabupaten Wonosobo merupakan sebuah kota kecil yang menjadi tujuan wisata di Provinsi Jawa Tengah. Letak geografisnya yang berada di daerah pegunungan membuat Wonosobo kaya akan tempat wisata yang indah. Wonosobo mempunyai berbagai macam tempat wisata alam seperti air terjun, telaga, gunung dan masih banyak lagi. Dan salah satunya adalah Telaga Menjer.

Bagi wisatawan yang berasal dari luar daerah Wonosobo tentunya belum begitu familier dengan objek wisata Telaga Menjer. Telaga ini dikelilingi hutan cemara. Telaga Menjer merupakan salah satu objek wisata yang berada di kawasan Desa Tlogo, Kecamatan Garung, Kabupaten Wonosobo, Provinsi Jawa Tengah.

Memang objek wisata ini belum banyak dikenal oleh wisatawan dari luar Wonosobo mungkin karena sebagian besar wisatawan lebih sering mendengar Telaga Warna, Telaga Pengilon ataupun Telaga Cebong yang berada di kawasan Dataran Tinggi Dieng. Oleh karena itu, tidak banyak wisatawan yang tahu kalau sebenarnya Telaga Menjer merupakan salah satu objek wisata yang patut untuk dikunjungi saat datang ke Wonosobo.

Objek wisata ini menarik dan unik karena  memiliki suasana khas pedesaan yang masih terjaga serta hawa sejuk yang disertai kabut menutupi air telaga yang sering muncul di waktu tertentu. Hal ini yang membuat sebagian wisatawan dari luar daerah Wonosobo, rela meluangkan waktunya di saat liburan hanya sekedar untuk berkunjung ke Telaga Menjer. Saya sekeluarga pun sebagai pendatang tetapi sudah domisili di Wonosobo sekitar 7 tahun sudah tiga kali mengunjungi Telaga Menjer.

Telaga Menjer adalah telaga yang terbentuk akibat dari letusan vulkanik di kaki Gunung Pakuwaja. Berada pada ketinggian 1.300 mdpl dengan luas 70 hektar dan kedalaman air mencapai 45 meter. Dulunya air di telaga itu hanyalah dari beberapa mata air kecil di sekitar telaga dan juga mengandalkan curah hujan yang cukup tinggi didaerah ini.

Objek wisata Telaga Menjer juga dimanfaatkan warga untuk memelihara ikan air tawar dengan keramba apung. Untuk menikmati indahnya pemandangan telaga ini, warga sekitar juga menyewakan perahu motor. Nah.. pengunjung bisa berkeliling di sekitar telaga sambil memandang suasana alam yang begitu mempesona. Jika pernah datang ke sini pasti jadi pengalaman yang tak terlupakan. Ditambah tebing tinggi yang mengelilingi telaga menceritakan awal terbentuknya telaga ini. Aktivitas warga menjaring ikan pun menjadikan telaga ini menjadi sumber penghidupan bagi warga sekitarnya.

Telaga Menjer dulunya sebuah kawah yang mengandung belerang, warga sendiri menyebutnya mitos. Tapi kenyataanya ini merupakan letupan dari kawah gunung Seroja yang berbatasan dengan pegunungan Dieng. Pada zaman penjajahan Belanda dengan akan dibangunnya PLTA Garung di bawah telaga tersebut, maka dibendunglah sebagian sungai Serayu yang berada di sebelah utara desa Jengkol. Kemudian dialirkan melalui terowongan bawah tanah sepanjang ± 7 km dibawah perkebunan teh PT Tambi yang berada di sebagian wilayah Desa Kreo dan Tlogo.

Untuk mengalirkan air dari telaga ini menuju PLTA, dibendunglah sebagian kecil dari telaga dan di bawahnya dipasang pipa dengan diameter mencapai ± 3m menuju ke PLTA yang berjarak sekitar 2 km. (sumber: wikipedia). Sekarang makin banyak orang yang berwisata dan menyebarkan info tentang Telaga Menjer di dunia maya sehingga semakin banyak pula pengunjung yang datang ke sana.

Melihat Telaga Menjer dari Bukit Seroja


Nah…saat ini telah dibuka tempat wisata baru di sekitar Telaga Menjer yaitu Bukit Seroja. Bagi pengunjung yang ingin melihat Telaga Menjer dari atas bukit, pengunjung bisa datang ke Bukit Seroja yang letaknya tidak jauh dari Telaga Menjer. Di tempat ini pengunjung dapat menikmati pemandangan Telaga Menjer dengan latar Gunung Sindoro dan Gunung Kembang yang menawan.
Bukit Seroja memang objek wisata yang baru dibuka dan lokasinya tidak jauh dari Telaga Menjer. Jika ingin menuju lokasi ini kita dapat menggunakan kendaraan roda dua atau roda empat bahkan bus sekalipun yang tentunya akan mempermudah saat berwisata dengan teman, keluarga ataupun rombongan dalam jumlah besar. Namun kendaraan roda empat tidak boleh naik dan harus di parkir di lapangan.

Berwisata ke Bukit Seroja tentu menjadi destinasi wisata baru bagi pengunjung. Tempat tersebut sedang digarap pemerintah Kabupaten Wonosobo. Dengan terkenalnya wisata alam Bukit Seroja membuat pemerintah bekerja sama dengan penduduk lokal untuk mengelola tempat tersebut. Penduduk setempat mulai membangun panggung-panggung bambu yang membuat tempat ini semakin menarik untuk dikunjungi. Oleh karena itu walaupun objek wisata ini baru dibuka tetapi ngehits sekali di kalangan anak muda. Termasuk saya dan keluarga ikut penasaran ingin melihat Bukit Seroja.

      Photo saya dan keluarga ketika hendak berangkat ke Bukit Seroja

Cara Mencapai Lokasi

Kami pun berangkat pagi sekitar pukul 7.30 WIB. Kendaraan roda empat yang kami naiki melaju dengan cepat melewati jalan menanjak berkelok setelah pasar Garung. Pipa-pipa raksasa di sepanjang jalan menandakan kami tak jauh lagi dari lokasi Telaga Menjer. Untuk sampai ke Bukit Seroja memang harus melewati Telaga Menjer terlebih dahulu.

Oleh karena itu, sesampainya kami di Telaga Menjer kami penasaran dan bertanya kepada penduduk tentang lokasi tersebut. Menurut informasi dari penduduk setempat, di puncak Bukit Seroja selain bisa menikmati danau dari ketinggian juga bisa memacu adrenalin dengan outbound di atas sana. Jalan menuju Bukit Seroja pun melewati perkebunan teh milik PT Teh Tambi. Wisata yang komplit sekali bukan?

Berhenti Sebentar untuk Menentukan Arah

Sesampainya di lokasi, di Desa Maron, Kecamatan Garung, Kabupaten Wonosobo kami diminta parkir kendaraan di lapangan dan harus menempuh perjalanan 1,5 km. Harga tiket sangat murah cukup Rp. 10.000,00 sudah termasuk parkir mobil pada waktu itu. Dengan membayar tiket itu pula pengunjung sudah bebas berswafoto sepuasnya. Murah sekali bukan?

Aktivitas Seru di Telaga Menjer

Kami pun mulai berjalan dan memasuki gapura yang bertuliskan Alam Seroja. Jalannya masih tanah sebagian lagi jalan berbatu dan terdapat ladang-ladang pertanian di samping kiri dan kanan jalan. Perkebunan sayur milik penduduk menjadi santapan mata yang menyegarkan. Tak perlu bingung dengan jalan yang dilalui karena di beberapa titik ada plang yang menunjukkan arah setiap lokasi misalnya saja arah menuju jalur pendakian, puncak seroja, gardu pandang dan Keteb Park. Jadi pengunjung tidak perlu khawatir akan tersesat.

Photo di Perkebunan Teh


Sekitar 500 meter kami sudah kelelahan karena jalan mendaki. Alhamdulillah ada kebun teh yang terhampar luas bak permadani di depan mata. Ini membuat udara terasa sejuk. Kami pun singgah ke kebun teh tersebut untuk beristirahat dan mengambil photo. Kemudian kami meneruskan perjalanan. Beberapa ratus meter kemudian datanglah beberapa tukang ojek yang menawarkan diri untuk memberi tumpangan. Dengan membayar uang Rp. 10.000,00 kami diantar sampai atas Bukit Seroja.

Photo anak-anak naik ATV

Jalan menuju puncak berliku dan tidak rata. Kita harus siap ketika roda kendaraan yang kita naiki beradu dengan tanah becek dan jalan mendaki untuk sampai di puncak Bukit Seroja. Perlu pegangan yang cukup erat jika tidak ingin jatuh. 

Saat melewati jalan menanjak sepeda motor yang saya naiki sempat selip karena jalannya yang basah dan licin. Saya agak khawatir dengan anak-anak saya. Mereka memilih naik ATV. Tapi dari kejauhan saya lihat mereka ceria walaupun sesekali saya mendengar mereka berteriak karena melewati jalan bergelombang.


Photo di Spot Love


MasyaAllah, tak disangka, sesampainya di puncak ternyata Bukit Seroja memiliki pesona alam yang luar biasa. Para pengunjung bisa menyaksikan keindahan Telaga Menjer dari atas Bukit Seroja ini. Bukit Seroja Wonosobo, wisata alam cantik ini membuat para pengunjung melongo. 

Bukit Seroja benar-benar merupakan eksotisme alam yang tersembunyi. Nuansa hijau yang asri dan teduh ini bisa memanjakan mata, hati dan pikiran para pengunjung. Menikmati keelokan Telaga Menjer dari puncak bukit di pagi hari laksana melihat surga tersembunyi di kaki pegunungan Dieng.

Banyak Spot untuk Berswafoto


Sepanjang jalan menuju puncak banyak spot photo menarik yang dilewati. Para pengunjung dapat berfoto di atas panggung tingkat tiga yang dibuat dari bambu. Terdapat juga spot tanda love yang dibangun di atas pohon. 

Sedangkan kami memilih spot photo bentuk love yang tidak terlalu tinggi, sekitar 10 meter di atas tepi Telaga Menjer. Itu pun sudah membuat kaki saya gemetar saat melewati jalan bambu yang lebarnya hanya setengah meter. Saya berpegangan di bambu sebelah kanan dan kiri sambil sesekali mengawasi anak-anak karena khawatir mereka jatuh ke telaga yang cukup dalam tersebut. Benar-benar memicu adrenalin.

Tak hanya menyediakan pemandangan alam yang tampak cantik, pengunjung juga bisa mendirikan tenda di sekitar Bukit Seroja. Dengan begitu pengunjung bisa menikmati pemandangan matahari terbenam (sunset)  atau indahnya matahari terbit (sunrise). Meskipun Bukit Sikunir Wonosobo, yang merupakan desa tertinggi di Pulau Jawa sama-sama menawarkan panorama sunrise (matahari terbit), para pengunjung di Bukit Seroja akan disuguhkan pemandangan berbeda dengan menyaksikan kemolekan matahari terbit yang menyembul di atas Telaga Menjer.

Tidak hanya itu, bila cuaca cerah, pengunjung bisa menyaksikan keindahan kota Wonosobo dari atas Bukit Seroja. Sehingga cocok sekali  bagi pengunjung yang penat dengan hiruk pikuk kehidupan kota. Pengunjung dijamin akan merasa jauh lebih tenang ketika berada di Bukit Seroja ini. Pikiran dan tubuh dijamin relaks kembali karena merasakan kebersihan dan kesejukan udara ketika pulang dari tempat ini.

Bukit Seroja ini memiliki ketinggian 1400 meter di atas permukaan laut yang membuat bukit ini mempunyai hawa yang dingin dan sejuk. Menyejukkan bagi siapapun yang mengunjunginya. Selain itu, objek wisata ini masih alami dan terjaga, pengunjungnya belum begitu ramai. Jadi, kita bisa menikmati keindahan Bukit Seroja tanpa terganggu dengan keramaian para pengunjung.

Melihat keindahan Telaga Menjer dari Bukit Seroja akan menjadi pengalaman asyik dan tak terlupakan, karena puncak Bukir Seroja merupakan salah satu spot foto terbaik bagi pengunjung yang ingin mendapatkan foto dengan latar belakang Telaga Menjer yang di ambil dari ketinggian. Tempat ini bisa menjadi alternatif liburan murah di kota Wonosobo.

Rabu, 28 Februari 2018

Anak Enggan Membaca, Cobalah Gunakan Pendekatan “Arpusda”

Februari 28, 2018 0 Comments
anak-enggan-membaca

Sudah menjadi hal yang sangat umum jika anak sekarang lebih menggandrungi gadget sebagai salah satu pilihan hiburan bagi mereka. Padahal banyak sekali efek negatif dari gadget itu sendiri baik dari segi mental dan fisik anak. Lalu aktifitas lain apa yang lebih bermanfaat dan tentu saja bisa menghibur anak? Maka membaca buku adalah jawabannya. Namun bagaimana caranya mengenalkan minat membaca anak sejak dini?

Alasan Anak Enggan Membaca

Penting bagi orangtua untuk menumbuhkan kesukaan membaca kepada anak sejak dini. Mengapa demikian? Karena dengan menumbuhkan kesukaan membaca sejak dini, pada akhirnya kegiatan membaca akan terus melekat pada diri anak sebagai kebiasaan, sehingga ia bisa mendapatkan banyak pengetahuan baru dari membaca buku. Oleh karena itu, mengenalkan minat membaca sejak dini harus dilakukan oleh orang tua.

Banyak alasan kenapa anak menjadi enggan membaca diantaranya mereka merasa membaca itu adalah hal yang membosankan dan tidak menyenangkan.  Selain itu anak merasa tidak memiliki waktu untuk membaca buku. Berbagai kesibukan mulai dari sekolah, les, mengerjakan tugas sekolah, bermain bersama teman telah menyita waktu mereka. 

Alasan lainnya adalah anak-anak belum memahami bahwa membaca itu penting dan bisa menambah wawasan mereka. Bila alasan-alasan ini yang membuat anak kita enggan untuk membaca, jangan putus asa. Kita masih bisa membantu mereka mengatasi kendala-kendala tersebut.

Pendekatan “Arpusda,” Arahkan, Pusatkan, Dambakan

Sejauh ini, cara efektif untuk menarik minat anak dalam membaca bagi keluarga kami adalah dengan pendekatan “Arpusda” yaitu arahkan, pusatkan dan dambakan. Cara tersebut telah berhasil membuat anak-anak mencintai buku bahkan si sulung dijuluki kutu buku di kelasnya.

Pertama, Arahkan

Orang tua harus senantiasa mengarahkan anak agar gemar membaca. Keingintahuan anak-anak terhadap ilmu pengetahuan sebenarnya sangat besar, tinggal bagaimana orang tua mengarahkan anak supaya gemar membaca. Jangan sampai orang tua membiarkan anak terlena dengan aktivitas yang tidak bermanfaat. 

Kami mulai mengarahkan anak sejak dalam kandungan. Sejak hamil saya sering membaca buku. Setelah anak lahir dan bisa berbicara, saya arahkan anak agar bisa bercerita tentang apa yang telah didengar walaupun ia terbata-bata tetap saya berikan apresiasi.

Jika saya membacakan sebuah buku dan anak tambah bosan untuk mendengarkan, saya arahkan pada hal yang membuat mereka tertarik. Saya menjanjikan sebuah hadiah jika mereka bisa mendengarkan sampai akhir cerita atau saya ubah cara baca dengan dramatisasi isi buku yang saya baca. 

Caranya dengan menambah kosakata dan kalimat yang menarik. Setelah itu cerita saya dramatisasi dengan gerakan-gerakan tubuh, mimik muka dan intonasi suara yang berbeda-beda. Anak-anak pasti akan tertarik. Ingat kewajiban orang tua hanya mengarahkan agar anak gemar membaca bukan memaksa anak untuk membaca. Arahkan dengan sabar serta berikan penghargaan hadiah-hadiah kecil yang membuat anak antusias. Jadikan buku sebagai hadiah untuk anak.

Kedua, Pusatkan

Jika memungkinkan, buatlah perpustakaan keluarga di rumah. Perpustakaan tidak harus mewah dan lengkap. Perpustakaan ini sebagai pusat baca keluarga. Jika buku berceceran dan tidak terpusat di satu tempat membuat anak tidak tertarik untuk membaca. Kami mengumpulkan buku dimulai dari yang sederhana dulu. Kami mengumpulkan buku anak dalam satu rak khusus yang mudah mereka ambil, tidak terlalu tinggi, tidak tersembunyi dan tidak terkunci. 

Rak buku orang tua dipisah dengan rak buku anak. Kami juga menambahkan karpet dan meja agar membuat mereka nyaman ketika membaca. Hingga saat ini kami baru bisa mengumpulkan sekitar dua ribuan buku.


anak-enggan-membaca
Perpustakaan Keluarga
Semakin banyak koleksi buku yang dimiliki anak tentu semakin baik. Namun, jika hal tersebut terhambat oleh terbatasnya dana yang ada, orang tua harus bisa menyiasatinya. Sejak 5 tahun terakhir kami pusatkan anggaran membeli buku pada program arisan buku. Kami ingin memiliki buku-buku bergizi tetapi karena harganya mahal, kami mengikuti arisan buku dengan 10x cicilan. 

Kenapa buku anak mahal? Karena memang buku anak biasanya berwarna-warni, sampulnya tebal dan penuh dengan gambar. Jika sudah terbiasa mengalokasikan anggaran khusus untuk membeli buku, buku mahal pun akan terasa ringan untuk dibeli karena sudah merasakan manfaatnya..

Selain memiliki perpustakaan keluarga, ajak anak ke pusat buku baik toko buku maupun pameran buku. Jadikan toko buku sebagai tempat singgah yang menyenangkan bagi anak dengan membiasakan mereka untuk mengunjunginya. Jadwalkan secara berkala untuk mengunjungi pameran buku. Berikan kepercayaan pada mereka untuk memilih sendiri buku di pusat-pusat penyedia buku tersebut. Biarkan mereka memilih buku yang mereka minati. Jangan lupa tanamkan sikap selektif dalam memilih buku kepada anak. 

Orang tua boleh memberikan kebebasan akan tetapi agar wawasan anak berkembang belilah dua buku, satu buku pilihan anak dan satunya tambahan pilihan bagi anak. Dorong pula anak untuk rajin mengunjungi perpustakaan yang bisa mereka akses, baik perpustakaan sekolah, perpustakaan umum maupun perpustakaan keliling. 

Jadi pusatkan tempat dan pusatkan anggaran merupakan tugas orang tua dalam rangka menyediakan sarana dan prasarana agar anak gemar membaca.

Terakhir, Dambakan

Damba adalah rasa ingin yang sangat. Dalam hal membaca, orang tua tentu mendambakan mempunyai anak yang gemar membaca agar kelak anak memiliki wawasan yang luas. Orang tua bisa memulainya dengan berkomunikasi dengan anak tentang profesi apa yang mereka dambakan kelak. Anak sulung kami ingin sekali menjadi dokter dan penulis. Anak kedua mendambakan menjadi penghafal Al Quran dan arkeolog dan anak ketiga ingin sekali menjadi pilot.

Dari cita-cita yang mereka dambakan tersebut, orang tua bisa dengan mudah membimbing mereka. Anak pertama suka sekali membaca buku-buku fiksi. Sehari bisa 5 buku yang ia baca. Jika ingin menjadi penulis misalnya saja, si sulung (10 tahun) kami motivasi untuk membaca banyak buku agar semakin mudah untuk menulis. Sudah banyak sekali cerpen yang ia tulis di buku dan di laptop.

Sedangkan anak kedua (8 tahun), sangat suka dengan buku-buku dinosaurus, ensiklopedi binatang dan komik-komik petualangan. Dia kurang suka dengan cerita-cerita fiksi seperti yang disukai kakaknya. Lain lagi si bungsu (5 tahun), ia  suka dengan buku-buku yang bergambar terutama gambar pesawat. Orang tua akan lebih mudah membimbing anak jika anak sudah memahami apa yang mereka dambakan.

Saya sendiri sangat mendambakan suatu saat anak-anak memiliki kemampuan melahirkan suatu karya yang mampu mengubah dunia dari kebiasaan membaca yang mereka tekuni. Keinginan yang kuat tersebut mampu membuat rasa kantuk saya di malam hari hilang hanya untuk membacakan sebuah cerita kepada anak-anak. Kebiasaan saya membacakan buku sebelum tidur kepada anak-anak saya lakukan sejak mereka kecil. 

Semakin bertambah usia, mereka tidak mau dibacakan buku dari buku yang saya pilih. Biasanya masing-masing anak memilih satu buku yang mereka sukai. Jadi setiap malam saya membaca empat buku, satu buku wajib dari saya, dan tiga buku dari pilihan anak pertama, kedua dan ketiga. Tidak harus sampai habis satu buku membacanya, yang penting satu sub bab atau satu episode selesai.

anak-enggan-membaca
Orang tua Harus Menjadi Contoh
Dengan pendekatan “Arpusda” atau arahkan, pusatkan dan dambakan, InsyaAllah masalah anak enggan membaca bisa ditanggulangi. Sebagai orang tua jangan lupa memberikan contoh yang baik dalam hal membaca. Biasakan mereka melihat orang tuanya membaca. Kami setiap hari berlangganan dua koran, satu tingkat lokal dan satu tingkat provinsi. Kemudian ditambah satu majalah yang hadir satu bulan sekali serta majalah anak-anak. Ini dalam rangka menumbuhkan minat baca di keluarga kami. 

Waktu baca disesuaikan dengan kesibukan dan aktivitas masing-masing anggota keluarga. Bagi keluarga kami buku adalah sumber inspirasi dan juga sarana bercengkerama bersama setelah seharian sibuk di luar untuk bekerja dan sekolah. Semoga kebiasaan membaca di keluarga kami bisa menular ke setiap keluarga di Wonosobo.

Selamat Hari Ulang Tahun untuk Perpustakaan Daerah Kabupaten Wonosobo yang ke-28 dan Dinas Arpusda yang ke-4. Harapan kami semoga semakin mencerahkan warga Wonosobo dengan buku-buku yang bergizi dan semakin ramah dalam melayani para pengunjung.

*Postingan artikel ini diikutsertakan dalam Lomba Blog#WonosoboSenengMaca

Sabtu, 24 Februari 2018

Belajar Speaking Lebih Menyenangkan dengan “Two Stay Two Stray”

Februari 24, 2018 0 Comments
Pembelajaran Two Stay Two Stray

Salah satu cara bagi guru untuk meningkatkan kualitas dalam mendidik adalah memberikan pembelajaran yang menarik dan menyenangkan. Selama ini pembelajaran speaking pada pelajaran Bahasa Inggris masih menjadi momok bagi sebagian besar siswa. Pasalnya, sebagaian besar siswa mengeluhkan bahwa speaking adalah kemampuan yang paling sulit untuk dikuasai dalam pelajaran bahasa Inggris. Oleh karena itu, guru perlu mencari model pembelajaran yang menarik agar kemampuan berbicara siswa terasah dengan baik.

Model Pembelajaran Two Stay Two Stray (TSTS) merupakan salah satu variasi model pembelajaran Cooperatif Learning yang menyenangkan. Model pembelajaran ini berbasis permainan di mana dua siswa tetap tinggal dan dua siswa lainnya bertamu. Model pembelajaran ini sangat menarik, karena ada aktivitas bertamu dan mencari informasi dalam belajar. Selain itu juga memberikan suasana baru bagi siswa. Siswa tidak hanya duduk dan memperhatikan apa yang disampaikan guru, tetapi mereka berpartisipasi aktif dalam proses belajar terutama dalam meningkatkan speaking skill mereka.


TSTS di kelas


Langkah penerapan model pembelajaran ini cukup mudah. Pertama, diawali dengan pembagian kelompok. Selanjutnya guru memberikan tugas berupa permasalahan yang harus didiskusikan oleh setiap kelompok. Setelah diskusi internal, dua siswa dari masing-masing kelompok meninggalkan kelompoknya untuk bertemu dengan seluruh anggota kelompok lain melalui dua orang duta. Pihak yang tidak menjadi duta bertugas menerima tamu dan menyajikan hasil kerja kelompoknya. Adapun pihak yang menjadi duta harus berkeliling untuk mencari informasi. Terakhir baik duta yang tetap tinggal untuk menerima tamu maupun duta yang berkeliling untuk bertemu kelompok lain, setelah selesai langsung berkumpul untuk membahas dan mencocokkan hasil kerja masing-masing.

Akibat dari penggunaan model ini mengarahkan siswa untuk lebih aktif, baik dalam berdiskusi, tanya jawab dan mencari jawaban. Keuntungan lainnya adalah siswa mampu menjelaskan dan juga menyimak materi yang dijelaskan oleh teman. Selain itu model pembelajaran ini memberi kesempatan pada kelompok untuk mengembangkan hasil informasi dengan kelompok lainnya yang membuat siswa lebih antusias.

Selain menyenangkan dari sisi proses pembelajaran, siswa juga merasa senang karena bekerja secara berkelompok. Kelompok yang dibentuk dalam model pembelajaran ini pun bervariasi mulai dari siswa yang memiliki kemampuan tinggi, sedang dan rendah. Sehingga siswa bekerja dalam kelompok kooperatif untuk menuntaskan materi belajarnya. Penghargaan juga lebih berorientasi pada kelompok daripada individu. Inilah yang membuat semangat siswa untuk bekerja sama menjadi lebih tinggi.

Dimodifikasi dengan Media Pembelajaran

Maket

Suatu model pembelajaran pasti memiliki kekurangan dan kelebihan. Kelebihan dari model ini di antaranya pembelajaran akan lebih bermakna, pembelajaran berpusat pada siswa, siswa akan lebih aktif, siswa lebih berani mengungkapkan pendapatnya, meningkatkan kemampuan berbicara siswa dan meningkatkan minat siswa terhadap mata pelajaran bahasa Inggris. Sedangkan kelemahannya adalah memerlukan waktu yang lama dan membutuhkan banyak persiapan.

Dari kelemahan tersebut guru dapat menyiasatinya dengan menambah media pembelajaran seperti maket, gambar, media slide power point agar setiap siswa memiliki kesempatan yang sama untuk mengamati dan memberikan pendapat terhadap media yang mereka lihat. Guru harus mempersiapkan media tersebut dengan baik dan membentuk kelompok yang heterogen ditinjau dari segi jenis kelamin dan kemampuan akademis.

Selain media-media tersebut, di akhir pembelajaran guru juga bisa memberikan kuis kepada setiap siswa ketika mengamati media pembelajaran. Kompetisi ini dapat meningkatkan motivasi siswa agar lebih berani mengasah kemampuan berbicara dalam bahasa Inggris. Guru pun bisa mengevaluasi peningkatan kemampuan berbicara setiap siswa

Jika guru dapat mengkreasikan antara model pembelajaran Two Stay Two Stray dengan berbagai media pembelajaran kepada siswanya, niscaya siswa tidak hanya senang akan tetapi siswa lebih cepat terampil dalam speaking . Dengan demikian, pelajaran bahasa Inggris terutama speaking tidak akan lagi menjadi momok bagi siswa. Semoga.


Tulisan ini dimuat di Koran Jateng Pos tanggal 2 Maret 2018


Jumat, 09 Februari 2018

Latihan Menjadi Jurnalis

Februari 09, 2018 0 Comments

Rasa ingin tahu yang besar terhadap hal-hal baru membuat si sulung ingin ikut semua ekstrakurikuler di sekolah. Padahal di sekolah ada aturan maksimal ikut 2 ekstra.
Akhirnya setelah berdiskusi panjang lebar diputuskan untuk ikut ekstra PMR dan jurnalistik. Ikut ekstra lain yang disukai di tahun berikutnya.
Kebetulan hari ini 9 Februari adalah peringatan Hari Pers Nasional. Moment yang tepat untuk menanamkan pondasi awal pada anak tentang pentingnya menguasai ilmu jurnalistik.
Kelak kalaupun menjadi jurnalis, harapan kami sebagai orang tua jadilah jurnalis yang jujur dan obyektif. Jurnalis sangat besar peranannya dalam membangun negara agar lebih baik lewat opini yang dibangun.
Jangan pernah takut untuk menyuarakan pendapat jika memang benar tapi juga tidak boleh kebablasan karena terikat dengan kode etik.
Untuk menuju kesana, jiwa seorang jurnalis harus diasah sejak dini dengan berbagai cara. Kelak kalaupun tidak memilih jadi jurnalis InsyaAllah tetap akan bermanfaat di pekerjaan yang lain.
Pertama, suka berpetualang.
Jurnalis harus suka berkeliling ke tempat-tempat yang baru untuk mendapatkan berita. Jangan jalan sedikit saja capek, terus mengeluh.
Si sulung pernah jalan kaki 4 km untuk mencari adiknya yang main di tempat temannya. Saya sampai "ilang atine" mencari ke pasar, terminal, sekolah, rumah temen-temennya dengan berbekal photo. Saya pikir diculik. Lain kali ijin dulu ya mb sya!
Kedua, Sukai Keragaman
Menjadi seorang jurnalis wawasannya harus luas. Dia kelak bisa dipindah-pindah untuk meliput berbagai berita. Memahami keragaman akan memperkaya hidup. Bacalah berbagai buku jangan cuma baca komik , cerpen dan novel ya mb Sya. Kami menyediakan berbagai buku agar dibaca anak-anak.
Ketiga, Ajak Bertemu orang penting
Jurnalis itu pekerjaan yang bisa membuat seseorang bisa bertemu presiden, artis, musisi atau tokoh penting lainnya untuk melakukan wawancara. So ajak anak sesekali ke rumah tokoh masyarakat sekitar
Keempat, Latih untuk Menulis Berita yang Memberi Wawasan
Kelak Wartawan tidak hanya menyebarkan informasi, mereka juga mengungkap informasi dan melakukan penelitian yang membawa fakta baru.Sebuah karya jurnalis yang baik dapat bermanfaat bagi kepentingan umum. Ia berjasa menyebarkan fakta dan pengetahuan pada khalayak luas. Jadi latih anak untuk menulis setiap ada kejadian yang ia temui dan harus sering.
Keenam, Latih Anak Menjadi Pribadi Tangguh
Pekerjaan jurnalis memang tampak berat dan penuh risiko bahkan nyawa dipertaruhkan. Jurnalis dituntut untuk membongkar fakta dan mencari kebenaran. Belum lagi tekanan deadline yang mengejar para jurnalis setiap harinya. Jadi harus tangguh dan tidak cengeng. Nah ini melatihnya yang agak sulit. Kami pun masih terseok-seok. Masih mencari pola yang tepat dan belum berhasil sampai sekarang.
Bagaimanapun juga ini hanya ikhtiar kami sebagai orang tua. Allah lah yang Maha Dahsyat bisa menggerakkan hati anak kita agar hidupnya bisa bermanfaat. Hanya kepadaMu kami mohon petunjuk

Rabu, 07 Februari 2018

Membuat Perpustakaan Mini di Rumah

Februari 07, 2018 0 Comments

Mas Daffa: :"Mb perpustakaannya dikasih nama Perpustakaan Safari aja. Kan singkatan dari Syahida Daffa Fachri"

Mb Sya: "Kan kita dah mau punya adik. Gimana kalau Safarina aja. Ntar adik kita huruf depannya dikasih nama Na bisa Najma, Naura, Nafisa. Ok!"

Mas Fachri: "Mendingan Narimawati aja kayak nama umi. Ha..ha.."

Begitulah diskusi mereka dalam membuat nama perpustakaan. Dan akhirnya diberi nama "Safarina Library". 

Membuat perpustakaan mini di rumah itu tidak mesti memiliki koleksi buku yang berlimpah dan memiliki ruangan khusus. Dengan koleksi buku yang hanya ratusan judul serta memanfaatkan ruang tamu dan ruang tengah kita sudah bisa mendirikan sebuah perpustakaan mungil yang kaya  akan manfaat.

Bagi kami walaupun banyak e book memiliki perpustakaan pribadi yang sederhana tetaplah penting agar tumbuh budaya membaca dalam keluarga. Kami merintisnya dengan bertahap.

Pertama, Koleksi buku.
Meskipun tak punya koleksi buku yang banyak mulailah untuk membuat perpustakaan mini di rumah. Karena buku adalah ruhnya perpustakaan. Jadi tidak harus menunggu banyak.

Kedua, Sediakan Ruangan
Perpustakaan pribadi tak harus membutuhkan ruangan khusus. Ruang tamu, ruang keluarga, ruang makan, ruang kerja, bahkan kamar tidur juga bisa dimanfaatkan untuk perpustakaan mini di rumah.

Ketiga, Rak Buku.
Rak buku berfungsi sebagai tempat meletakkan dan menyimpan koleksi bacaan agar tidak berserakan. Ada rak buku terbuka, ada rak buku tertutup yang bisa dibeli. Alhamdulillah karena punya mbah kakung yang bisa membuat rak buku jadi rak buku beliau yang membuat.

Keempat, Kursi dan Meja Baca
Pilih kursi dan meja yang sesuai dan nyaman untuk membaca. Tidak harus ada kursi dan meja, kami justru memilih tanpa dilengkapi kursi. Selain ruangan sempit kami justru bisa membaca dengan santai di lantai yang dialasi karpet

Kelima, Menata Buku
Buku-buku sebaiknya ditata dengan rapi sehingga memudahkan saat mencari buku. Misal secara berkelompok sesuai tema, pengarang atau lainnya.


Setelah jadi rajin dirawat ya. Bersihkan debu secara rutin. Bila perlu semprotkan antirayap agar buku tetap awet.

Minggu, 04 Februari 2018

Manfaat Ngeblog

Februari 04, 2018 0 Comments
Ikut pelatihan pembuatan blog sudah beberapa kali tapi apalah daya nggak pernah dirawat akhirnya ilmunya hilang. Kebetulan ada teman yang lagi mudik dan dia aktif sebagai blogger. Langsung saja saya merapat dan minta diajarin cara buat blog.

Manfaat ngeblog banyak lho diantaranya:

1. Menajamkan ketrampilan menulis.

Dari semakin variatifnya diksi, hingga mengolah tema. Dari Merangkai kata, hingga menyusun kalimat. Ujung-ujungnya, teknik menulis pun sedikit banyak akan meningkat.
2. Kepuasan batin
Ketika apa yang kita tulis di blog bisa bermanfaat bagi orang lain tentu rasa batin sangat puas. Padahal tulisan kita bisa jadi tidak istimewa. Apalagi kalau bisa memberikan motivasi dan inspirasi buat yang lain. Selain itu batin rasanya plong bisa menuangkan uneg uneg lewat tulisan.
3. Tambah wawasan
Ketika ngeblog, mau tak mau harus banyak membaca, melihat, dan merenung hingga akhirnya menjadi sebuah postingan di blog. Semuanya itu akan menambah wawasan.
4. Sebagai pengingat
Ini terutama untuk yang pelupa seperti saya ngeblog pas banget. Salah satu kelebihan bila menulis di blog adalah bila kita ingin mencari sesuatu yang kita perlukan, tinggal ketik saja kata kuncinya di mesin pencari google, dalam sekejap akan segera ditemukan yang kita mau.
5. Media dakwah
Apabila kita isi blog dengan tulisan-tulisan tentang kebaikan, InsyaAllah penyebarannya juga akan luas sekali. Kelihatannya tulisannya sepele tapi ternyata telah menginspirasi banyak orang di mana-mana. Disinilah wadah berdakwah di dunia maya.
6. Menambah pertemanan baru
Ketika menulis di blog bersiaplah untuk mendapatkan banyak teman baru yang kemudian menjalin komunikasi secara intens, dan terjalinlah persahabatan.
Nah, blog sudah ada PR nya sekarang mengisinya dengan tulisan. Biar semangat kayak blogger yang lain saya mencoba masuk komunitas blogger muslimah. Semoga bisa istiqamah. Karena yang paling sulit bagi saya adalah merawatnya. Masih suka nulis di fb karena lebih praktis.😉